Kejam, Pembantaian Keluarga Polisi di Nganjuk: Korban Pura-Pura Mati

Sabtu 29-11-2025,21:31 WIB
Oleh: Djono W. Oesman

AKP Sukaca: ”Hasil penyidikan sementara sampai di situ. Kami masih memproses pelaku. Satu saksi korban yang terluka parah (Elda) belum bisa dimintai keterangan karena masih dirawat di RS Bhayangkara, Nganjuk.”

Saksi tetangga korban menceritakan, DS bukan orang asing di keluarga korban. ”Ia sering kelihatan datang ke rumah kos itu. Kabarnya ia pacar. Entah pacar anak perempuan yang mana. Kan ada dua anak perempuan di situ.”

Korban beralamat (sesuai KTP) di Desa Muneng, Kecamatan Purwoasri, Kediri, Jatim. Sudah sejak beberapa waktu indekos di sana. 

Warga sekitar rumah korban tidak banyak bicara saat ditanya wartawan. Sementara itu, polisi belum mengumumkan kronologi dan motifnya. Yang jelas, pada jenazah Elvi ditemukan 18 luka tikaman benda tajam. Para korban juga terbakar, tetapi tidak sampai hangus.

Hebatnya, korban Elda tidak meninggal (tapi terluka tikaman benda tajam) karena dia dikabarkan pura-pura mati. Dengan begitu, pelaku meninggalkan korban, kemudian membakar rumah tersebut.

Korban pura-pura mati, cara cerdik menghindari kematian saat diserang pelaku. Itu cara kuno yang efektif.

Dikutip dari The Guardian, Sabtu, 23 Maret 2024, berjudul Survivors of Moscow attack tell of horror, cara pura-pura mati menyelamatkan korban teror di Moskow, Rusia.

Saat itu terjadi teror pada konser musik di arena musik Crocus City Hall, Moskow, Rusia. Saat gedung penuh manusia, ada beberapa pemuda bersenjata senapan serbu Kalashnikov yang masuk gedung. Mereka langsung menembaki orang secara acak.

Seorang korban perempuan kepada media massa Rusia menceritakan: 

”Mereka (para penyerang) melihat kami. Salah seorang dari mereka berlari dan mulai menembaki orang-orang. Orang-orang panik, berlarian. Saya merasa pelipis saya kena sakit, kena sesuatu.”

Ternyata perempuan itu tertembak. Terserempet peluru di pelipis. Dia baru tahu beberapa detik setelah tertembak, setelah dia melihat darah mengucur dari pelipis.

Perempuan: ”Saya jatuh ke lantai dan berpura-pura mati.”

Di sebelah perempuan itu ada perempuan lain yang juga tertembak dan terjatuh. Persis berada di sebelah perempuan saksi itu. 

Perempuan: ”Orang-orang bersenjata itu mendatangi kami yang tergeletak. Memeriksa kami. Lalu, mereka melepaskan tembakan ke beberapa korban yang tergeletak di tanah.”

Si perempuan menduga, korban yang jatuh ke lantai dan diperiksa para penyerang mungkin bergerak dan menunjukkan tanda-tanda masih hidup. Dengan begitu, mereka ditembak (lagi) oleh penyerang.

Sebaliknya, si perempuan saat diperiksa penyerang dengan kaki, korban sama sekali tidak bergerak. Karena itu, dia dikira sudah mati dan tidak ditembak lagi.

Kategori :