Perempuan: ”Gadis yang terbaring di sampingku terbunuh. Dia bergerak saat diperiksa penyerang.”
ISIS mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Orang-orang bersenjata itu kemudian membakar aula tersebut. Mereka berharap untuk membunuh semua orang yang tertinggal di dalam.
Perempuan: ”Lalu, api berkobar. Mereka menutup pintu depan, tetapi sangat mungkin mereka tidak bisa menutup kuncinya.”
Dilanjut: ”Saya berbaring di bawah pintu, menghirup udara. Setelah beberapa saat, saya merangkak keluar. Tiga menit berlalu, mungkin empat menit. Saya melihat sekeliling, merangkak ke pintu keluar. Saya menyadari tidak ada orang di sana dan saya keluar. Saya selamat dari maut.”
Itu hanyalah salah satu kisah mengerikan yang muncul dalam serangan teror paling mematikan di Rusia sejak pengepungan sekolah Beslan tahun 2004.
Empat pria penyerang yang berasal dari Tajikistan di Asia Tengah telah ditangkap polisi Rusia.
Banyak kisah semacam itu. Terutama dalam situasi perang. Maka, korban Elda menerapkan itu dalam detik-detik kritis penyerangan. Kendati, dia terluka parah dan belum dilaporkan perkembangan kondisinya karena masih dirawat di RS sejak Rabu dini hari, 26 November 2025.
Melihat kecepatan polisi menangkap pelaku, sepertinya kronologi dan motif tragedi itu akan segera diungkap polisi. Kasus tersebut menjadi sensitif karena korbannya keluarga polisi. (*)