HARIAN DISWAY - Pameran traditional wedding di Royal Plaza, Surabaya, menjadi "panggung" bagi anak-anak usia Sekolah Dasar (SD) untuk unjuk bakat. Mereka menampilkan drama dan lagu secara atraktif pada Jumat, 24 April 2026.
Anaya Altaira, Abidzar Arkana Noor Tya, Arvin Livero Ibrahim, dan Bandiani Qurani Ardis menarik perhatian pengunjung pameran sejak awal. Para pelajar kelas 5 SD Muhammadiyah Surabaya itu dengan percaya diri menghidupkan cerita dalam Bahasa Inggris.
Gerak-gerik dan mimik mereka pun menarik perhatian. Lafal dan intonasi mereka juga membuat semua yang melihat langsung tertarik.
Di hadapan mereka, anak-anak lainnya duduk manis. Mereka asyik mendengarkan kisah yang dibawakan dengan aksi teatrikal tersebut.
BACA JUGA:Pesta Rupa Arisan: Bangun Perspektif Anak Muda tentang Seni melalui Lukisan
BACA JUGA:Mahasiswa Seni Rupa UNIPA Gelar Pameran Pesta Rupa, Berawal dari Kegelisahan Kehidupan
Mereka mengisahkan seorang penggembala yang ingin membuat kemeja dari wol. Penggembala itu bergegas menuju pabrik garmen.
Namun, rupanya pabrik garmen itu tidak bisa langsung membuat kemeja dari wol. Penggembala disarankan ke pabrik wol untuk mengubah wol-nya menjadi kain lebih dulu.
Singkat cerita, penggembala itu berhasil menemukan pabrik wol lalu menjadikan wol yang dibawanya ke bentuk kain. Selanjutnya, kain itu dibuat menjadi kemeja. Total, ia punya tiga kemeja.
Pada musim yang begitu dingin, seorang pria tunawisma datang kepada penggembala itu dan meminta pertolongan. Penggembala memberikannya dua kemeja.
BACA JUGA:Studio Semut Liart Pamerkan Karya 9 Seniman Cilik dalam Colours of Dreams
BACA JUGA:Pameran Seni Rupa Art for Freedom, Seniman Suarakan Pentingnya Ruang Seni di Surabaya
Selang beberapa waktu, pria tunawisma itu datang kembali dan mengajak penggembala bekerja sama untuk mengembangkan bisnis wol menjadi pakaian.
Ternyata, dulunya pria tunawisma itu adalah pegawai pabrik wol. Kini, ia memulai bisnis kecilnya sendiri.
"Aku tidak mampu membeli lebih banyak lagi sekarang. Aku tahu tempat di perbukitan tempat pabrik wol lamaku dulu mencukur bulu domba. Haruskah kita pergi ke sana besok?" ujar pria tunawisma itu.