⁠Always Online Culture dan Dampaknya pada Kesehatan Mental

⁠Always Online Culture dan Dampaknya pada Kesehatan Mental

Hidup di era always online membuat kita terus terhubung, tapi kadang justru menjauh dari diri sendiri. Saatnya rehat sejenak dari layar.-freepik-

HARIAN DISWAY - Di era digital yang seolah tidak pernah berhenti ini, gaya hidup always online atau selalu eksis menjadi fenomena sosial yang semakin kuat.

Banyak orang menikmati kemudahan berkomunikasi dan akses informasi yang ditawarkan teknologi. Sebaliknya, ada tantangan besar yang muncul pada sektor kesehatan mental.

Beberapa riset menunjukkan bahwa penggunaan media sosial secara berlebihan berkaitan dengan gejala depresi dan kecemasan.

Tinjauan pada 43 studi menemukan bahwa penggunaan media sosial yang terlalu intens dapat meningkatkan risiko depresi, terutama di kalangan anak muda.

BACA JUGA:Butuh Istirahat dari Layar? Yuk Coba Digital Detox!

BACA JUGA:Digital Detox Challenge: Tantangan Lepas Gadget yang Menarik untuk Dicoba

Survei McKinsey Health Institute mencatat bahwa generasi Z sering mengalami FOMO (fear of missing out) yang memicu kegelisahan dan rasa tidak puas terhadap diri sendiri.

Kebiasaan selalu terhubung juga membuat batas antara waktu kerja dan waktu pribadi semakin kabur. Dalam dunia kerja modern, banyak orang merasa harus selalu siap membalas pesan atau email kapan pun.

Akibatnya, tingkat stres meningkat karena tidak ada waktu istirahat yang benar-benar bebas dari urusan digital. Kondisi ini sering disebut sebagai bentuk baru burnout digital.

Selain dampak psikologis, efek fisik juga mulai terlihat. Pola tidur terganggu, tubuh terasa lelah, dan kualitas hubungan sosial menurun karena interaksi tatap muka berkurang.

BACA JUGA:Digital Detox, Rehat Sejenak dari Teknologi Demi Mengurangi Stress

BACA JUGA:Digital Detox saat Ramadan: Kurangi Scroll, Tambah Pahala!


ALWAYS ONLINE memberi kemudahan tanpa batas, tapi juga bisa menguras mental. Seimbangkan koneksi digital dan waktu nyata.-freepik-

Ironisnya, meskipun seseorang selalu terhubung, ia bisa merasa kesepian dan terisolasi secara emosional.

Studi menjelaskan bahwa penggunaan internet bisa memberikan manfaat sosial, tetapi juga membawa efek negatif jika dilakukan tanpa kendali.

Untuk mengurangi dampak tersebut, muncul tren baru yang disebut digital detox. Langkah ini mendorong seseorang untuk mengambil jeda dari dunia digital dalam jangka waktu tertentu.

Menjeda diri dari penggunaan media sosial dapat menurunkan gejala depresi, walau belum terbukti secara konsisten mampu meningkatkan kebahagiaan secara keseluruhan.

BACA JUGA:Penting! Lakukan Digital Detox untuk Mengurangi Ketergantungan pada Teknologi

BACA JUGA:Mindful Scrolling: 5 Strategi Ampuh Bermedia Sosial Tanpa Kecanduan dan Stres

Meski demikian, langkah kecil ini tetap terbukti membantu sebagian orang menemukan kembali keseimbangan mentalnya.

Lalu, apa yang bisa dilakukan agar kita tetap terhubung tanpa melepaskan kesehatan mental? Berikut beberapa strategi yang direkomendasikan:

  • Tetapkan batas jelas antara waktu online dan waktu istirahat (misalnya menonaktifkan notifikasi di luar jam tertentu).

  • Tingkatkan kesadaran terhadap gejala seperti perasaan gelisah saat tak memegang ponsel, kesulitan tidur karena scroll sampai larut malam, atau merasa hidup orang lain selalu lebih baik di medsos.

BACA JUGA:Doomscrolling, Ancaman dari Kebiasaan Menggulir Berita Negatif

BACA JUGA:Bahaya Scrolling Tanpa Tujuan saat Waktu Luang

  • Gunakan media sosial dan perangkat digital sebagai alat, bukan sebagai ruang eksklusif untuk validasi diri. Hubungan tatap muka, hobi tanpa layar, dan aktivitas fisik tetap penting.

  • Bila perlu, lakukan digital detox pendek: misalnya 24 jam tanpa media sosial, atau matikan perangkat sebelum tidur untuk menjaga kualitas tidur dan pikiran.

Budaya always online memang sulit dihindari di tengah kemajuan teknologi yang serba cepat.

Namun, memahami batas antara kebutuhan dan ketergantungan digital adalah hal penting untuk menjaga kesehatan mental.

BACA JUGA:Suka Scroll sebelum Tidur? Waspadai Dampaknya pada Otak

BACA JUGA: 8 Kegiatan Produktif Ngabuburit Tanpa Scroll Medsos

Terhubung tidak selalu berarti harus aktif setiap saat. Dengan keseimbangan yang tepat, teknologi bisa menjadi alat bantu, bukan sumber tekanan. (*)

*) Mahasiswa magang dari Prodi Ilmu Komunikasi, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: diolah dari berbagai sumber