Prof Mas'ud Said: Spiritualitas Modern yang Membuat Indonesia Menjadi Negara Paling Bahagia

 Prof Mas'ud Said: Spiritualitas Modern yang Membuat Indonesia Menjadi Negara Paling Bahagia

Wakil Ketua Umum PP ISNU Prf Mas'ud Said menjadi narasumber acara Ramaan Cendekia di kantor PW ISNU Jatim, Selasa, 3 Maret 2026. -PW ISNU Jatim-

SURABAYA, HARIAN DISWAY – Ramadhan Cendekia yang digelar Pengurus Wilayah Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama Jawa Timur (PW ISNU Jatim) yang digelar setiap Selasa dan Jumat selalu melahirkan pemikiran-pemikiran yang inspiratif. Pada Selasa, 3 Maret 2026, Ramadhan Cendekia menghadirkan Wakil Ketua Umum PP ISNU Prof HM Mas'ud Said MM PhD. Direktr Pascasarjana Universitas Islam Malang (Unisma) itu menekankan pentingnya “spiritualitas modern”. 

Hal itulah yang membuat Indonesia berada dalam peringkat teratas sebagai negara paling bahagia dengan tingkat kesejahteraan menyeluruh (flourishing). "Berdasarkan riset terbaru Universitas Harvard, salah satu universitas top dunia yang berkolaborasi dengan Baylor University, dan lembaga ritet  ternama dunia Gallup, yang secara mengejutkan Indonesia menempati peringkat teratas sebagai negara paling bahagia di dunia dengan indikator kesejahteraan menyeluruh yakni kesehatan, makna hidup, karakter/relasi sosial, dan ketahanan finansial,” kata Mas'ud saat menyampaikan ceramah di kantor PW ISNU Jatim di Surabaya, Selasa malam.

Menurut Mas'ud, riset bertajuk Global Flourishing Study tersebut mengkaji lebih dari 203.000 responden di 22 negara dalam periode riset selama 3 tahun (2022-2024), lalu dipublikasikan dalam jurnal Nature Mental Health pada Mei 2025 yang dilaporkan oleh Dr Bryron Johnson. 

"Kok bisa ya. Hasilnya menunjukkan bahwa Indonesia menduduki peringkat teratas, dengan skor perkembangan sebesar 8,3. Diikuti oleh Israel (7,87), Filipina (7,71), Meksiko (7,64), dan Polandia (7,55). Temuan baru adalah rata-rata negara barat, negara maju kurang bahagia, banyak masalah kemanusiaan. Riset ini menyimpulkan bahwa harta dan ekonomi bukan segala-galanya,” katanya. 

BACA JUGA:ASDP Antisipasi 5,8 Juta Pemudik Lebaran 2026, Perkuat Armada dan Skema Layanan Nasional

BACA JUGA:Khofifah Luncurkan Program MAMA MAU NAIK KELAS, Resmikan Revitalisasi 60 Sekolah

Fenomena itu, lanjut Mas'ud selaras dengan Alquran Surat Al An’am ayat-32 yang berbunyi : "Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, kalau mereka mengetahui."

“Banyak negara maju memang mencatat skor tinggi dalam hal keamanan finansial, ekonomi,  namun justru rendah dalam aspek makna hidup, hubungan sosial, dan karakter pro-sosial. Jadi, dunia sekarang rupanya mumet karena terlalu sibuk mengejar harta, zonder moral, dan tertipu dengan fatamorgana materialisme,” katanya.

Menurut dia, nilai-nilai Asia yang dikembangkan Indonesia dan negara Asia lainnya itu disebabkan oleh kedekatan Indonesia dengan nilai-nilai Islam yang dekat dengan NU, yakni Rahmatan lil Alamin. Bagi warga Indonesia, nilai-nilai agama  bukan sebatas ritual atau ibadah di masjid, namun berbasis nilai-nilai kemanusiaan (pelayanan/pengabdian Masyarakat) yang bisa disebut sebagai “spiritualitas modern”.

"Spiritualitas modern itu dicontohkan dalam riset World Giving Index yang dilakukan oleh Charity Aid Foundation pada tahun 2023- 2024 tentang bangsa yang suka charity, suka memberi, suka sedekah. Bantuan itu bukan hanya uang, tapi bisa uang, menolong orang, bantuan barang dan waktu luang. Suka menolong atau gotong royong itu khas Jawa, khas Madura, khas Bali, khas Sulawesi, atau khas Indonesia," kata mantan ketua PW ISNU Jatim itu.

Dampak positif charity atau manfaat sedekah secara finansial, adalah sedekah itu membuat kaya. “Kita bisa saja tidak percaya, ternyata tokoh dunia yang kaya seperti Bill Gates, Warren Buffett, Azim Premji, Charles Franceis Feeney, dan Mark Zuckerberg, justru semakin kaya setelah menjadi dermawan,” katanya.

BACA JUGA:Hengki Herwanto, Pendiri Museum Musik Indonesia dan Pertaruhan Mengarsipkan Bunyi

BACA JUGA:Iran Klaim Korban di Pihak AS Tembus 650 Orang Personel Militer

Bill Gates menjadi salah satu crazy rich dunia yang paling dermawan. Bos Microsoft ini tercatat telah menyumbangkan hartanya hingga USD27 miliar.  Indeks kedermawanannya mencapai 32 persen, sedang Warren Buffett (CEO Berkshire Hathaway) juga menjadi filantropis yang paling dermawan. Ia telah menyumbang USD21,5 miliar. Indeks kedermawanannya mencapai 35 persen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: