Praktisi Gender Dorong Pemkot Sosialisasi Kekerasan Seksual Catcalling
Ilustrasi Catcalling. Awal April 2026 Kota Surabaya marak isu catcalling di ruang publik, resahkan warga, utamanya para perempuan-corn-Pinterest
SURABAYA, HARIAN DISWAY - Aksi catcalling kembali meresahkan warga Kota SURABAYA. Tidak hanya di satu titik, tetapi terjadi di setiap sudut kota. Aksi itu mendapat sorotan dari pakar sosial dan gender Universitas Airlangga, Rabu, 8 April 2026.
Fenomena tersebut jelas mengganggu kenyamanan warga, khususnya perempuan yang tengah beraktivitas. Banyak pula yang tidak terdokumentasi sehingga tidak bisa dilaporkan.
Catcalling seringkali berupa candaan ataupun siulan yang menyebabkan para perempuan merasa tidak aman dan was-was. Hingga yang paling parah adalah timbul rasa takut ataupun trauma.
Akademisi Gender dan Sosial Universitas Airlangga sekaligus Ketua Umum Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial (BK3S), Dr. Pinky Saptandari EP, Dra., M.A, menyoroti fenomena catcalling yang semakin marak di Surabaya.
BACA JUGA:Cegah Cat Calling, Anies Tegaskan Perlunya Perlindungan Ekstra pada Perempuan
BACA JUGA:Taufik Hidayat Kecam Dugaan Pelecehan Seksual di Pelatnas Panjat Tebing

Dr. Pinky Saptandari EP, Dra., M.A., seorang Praktisi Gender menyoroti isu catcalling sebagai permasalahan yang harus segera ditangani demi kenyamanan ruang publik, Rabu, 8 April 2026-Pinky Saptandari-Istimewa
Menurutnya, catcalling terjadi karena masyarakat belum mengerti tentang HAM, kesetaraan dan keadilan gender. Pemahaman masyarakat belum dititik menyadarkan.
Di satu sisi, pemerintah belum sungguh-sungguh mensosialisasikan berbagai bentuk kekerasan, termasuk catcalling, yang masih dianggap biasa, jamak, lumrah.
Seharusnya, menyadarkan masyarakat itu menjadi tugas bersama pemerintah bersama dengan media, serta dunia pendidikan. Bahu-membahu mensosialisasikan beragam bentuk kekerasan dan sanksinya.
Apabila tersosialisasi meluas, maka dapat menjadi gerakan bersama dalam melawan kekerasan seksual, utamanya catcalling.
BACA JUGA:Ratusan Perempuan Masih Rentan, Kerap Jadi Korban Pelecehan
“Disini pentingnya membangun masyarakat berbudaya inklusif yang mampu menerapkan komunikasi mindfulness, menghargai menghormati tanpa kecuali agar tercipta masyarakat yang beradab dan berbudaya,” ujar Pinky.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: