Anatomi Psikologi Hari Lansia: Ketika Didengarkan Adalah Obat dan Dilibatkan Adalah Vitamin

Anatomi Psikologi Hari Lansia: Ketika Didengarkan Adalah Obat dan Dilibatkan Adalah Vitamin

Lansia butuh dirawat hatinya, bukan cuma fisiknya. Simak jurus psikologi atasi kesepian orang tua!-ChatGPT-ChatGPT

Tua itu pasti. Bahagia di hari tua belum tentu.

Ada orang yang tubuhnya masih cukup sehat, tetapi wajahnya murung. Ada yang tinggal serumah dengan anak-cucu, tetapi hatinya sepi. Ada yang makan tiga kali sehari, obatnya lengkap, tensinya rutin diperiksa, tetapi tetap merasa hidupnya tidak lagi penting.

Itulah yang sering luput ketika kita bicara tentang lansia.

Setiap Hari Lanjut Usia Nasional, yang diperingati pada bulan Mei, kita biasanya mudah mengucapkan kalimat indah: hormati lansia, sayangi orang tua, rawat mereka dengan kasih sayang. Semua itu benar. Namun, pertanyaan yang lebih mendalam adalah apakah lansia kita sudah benar-benar sehat dan bahagia?

Indonesia kini memasuki era penduduk menua. Kementerian Kesehatan mencatat Indonesia telah memasuki ageing population sejak 2021. Sekitar 12 persen atau 29 juta penduduk Indonesia adalah lansia, dan proporsinya diprediksi akan meningkat menjadi 20 persen pada 2045.

Kemenkes juga mencatat bahwa sebagian besar lansia masih mandiri, tetapi penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes, dan stroke menjadi tantangan penting bagi kemandirian mereka.

Angka itu besar. Tetapi di balik angka-angka itu, ada manusia. Ada kakek yang dulu gagah bekerja, kini berjalan pelan menuju langgar.

BACA JUGA:Komunitas Inspiratif Lansia Surabaya: Pasmanbaya Music Club (2-habis): Makin Tua, Makin Nge-band

BACA JUGA:Komunitas Inspiratif Lansia Surabaya: Golden String Ukulele (1): Pilih Tampil di Akhir Acara

Ada nenek yang dulu sibuk mengurus anak-anak, kini lebih banyak duduk di teras sambil menunggu disapa. Ada orang tua yang masih ingin berguna, tetapi sering diperlakukan seperti barang rapuh: jangan ini, jangan itu, duduk saja, diam saja.

Padahal lansia bukan hanya tubuh yang melemah. Lansia adalah jiwa yang tetap ingin diakui.

Dari perspektif psikologi klinis, kesehatan lansia tidak cukup hanya dilihat dari tekanan darah, kadar gula, nyeri sendi, atau obat yang diminum. Semua itu penting. Tetapi lansia juga membutuhkan rasa aman, rasa dihargai, rasa masih memiliki peran, dan rasa bahwa hidupnya tetap bermakna.

Elizabeth B. Hurlock, menjelaskan bahwa masa lanjut usia memiliki tantangan khas. Lansia perlu menyesuaikan diri dengan menurunnya kekuatan fisik dan kesehatan. Mereka juga perlu menyesuaikan diri dengan pensiun, berkurangnya penghasilan, kehilangan pasangan atau teman sebaya, perubahan peran sosial, dan kebutuhan untuk membangun hubungan baru yang sesuai dengan usia lanjut.

Tugas itu tidak ringan.

Pensiun, misalnya, bukan hanya berhenti bekerja. Bagi sebagian orang, pensiun adalah kehilangan identitas. Dulu ia dipanggil Pak Kepala, Bu Guru, Pak Dokter, Bu Bendahara, Pak Ketua RT. Setelah pensiun, panggilan itu hilang pelan-pelan. Telepon semakin jarang. Undangan makin sedikit. Bila dahulu selalu dicari banyak orang, ketika lansia tiba-tiba merasa tidak lagi diperlukan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: