Psikologi Pocong Begal: Saat Hoaks Medsos Menipu Otak Manusia
Psikologi Pocong Begal: Mengapa Pikiran Kita Lebih Cepat Takut daripada Bukti?-Nano Banana 2-Nano Banana 2
Pocong itu belum tentu datang. Tapi takutnya sudah hadir duluan. Begitulah kira-kira yang terjadi ketika kabar “pocong begal” beredar di media sosial.
Pocong muncul di video, dalam bentuk foto dengan narasi yang menakutkan di jalanan yang gelap atau di kuburan. Lalu ada pula kata “begal”, dan ada orang berpakaian kain kafan yang ditali kepalanya dan kadang wajahnya menyeramkan. Deskripsinya lengkap dengan bahan yang mampu membuat orang cemas.
Sebagian masyarakat lalu berjaga. Sebagian meneruskan pesan. Sebagian lagi menambah cerita. Dari satu grup WhatsApp pindah ke grup lain. Dari TikTok masuk ke Instagram. Dari kabar yang belum jelas berubah menjadi “seolah-olah benar”.
Belakangan, beberapa kabar tentang pocong begal justru diklarifikasi sebagai hoaks. Polda Jawa Tengah, misalnya, menyatakan isu “pocong begal” yang viral di sejumlah daerah tidak benar setelah dilakukan patroli siber dan pengecekan di lapangan. Di Denpasar, polisi juga mengungkap kabar “pocong begal” di Monang-Maning sebagai rekayasa AI yang melibatkan remaja.
Namun, dalam psikologi, yang menarik bukan hanya benar atau tidaknya pocong itu. Yang lebih menarik adalah: mengapa orang begitu mudah takut? Mengapa hantu begitu cepat dipercaya? Mengapa simbol pocong begitu kuat menguasai pikiran masyarakat?Dalam psikologi klinis, ketakutan terhadap pocong dapat dipahami sebagai respons kecemasan. Bukan semata karena objeknya benar-benar ada, tetapi karena pikiran menafsirkan objek itu sebagai ancaman.
BACA JUGA:5 Pemain Film Warung Pocong, 3 Komika Legend Adu Akting dalam Horor Komedi
BACA JUGA:Sumpah Pocong di Kasus Vina Cirebon dan Pocong Kosong
Karena itu, Cognitive Behavioral Model Theory of Anxiety menjadi relevan. Model ini menjelaskan bahwa kecemasan lahir dari hubungan antara pikiran, emosi, tubuh, dan perilaku. Apa yang kita pikirkan akan memengaruhi apa yang kita rasakan. Apa yang kita rasakan akan memengaruhi tubuh. Lalu tubuh yang tegang akan mendorong perilaku tertentu. Pendekatan cognitive behavioral therapy atau CBT banyak digunakan dalam gangguan kecemasan karena berupaya mengubah respons emosional yang maladaptif melalui perubahan cara berpikir dan perilaku.
Dalam kasus pocong begal, proses psikologis munculnya kecemasan itu tampak jelas.
Seseorang melihat video sosok putih di jalan. Ia membaca keterangan di video itu : “Hati-hati, pocong begal sudah masuk daerah kita.” Lalu muncul pikiran otomatis: “Jangan-jangan itu dekat rumah saya.” “Kalau saya keluar malam, saya bisa jadi korban.” “Ini bukan hanya begal, tapi juga hantu.” Pikiran itu memicu emosi takut. Fisiologis kita ikut bereaksi dengan jantung berdebar dan kadang juga keluar keringat dingin. Tidur tidak tenang. Telinga lebih peka pada suara kecil di luar rumah. Bayangan di ujung gang terasa mencurigakan.
Akhirnya perilaku berubah. Orang menghindari keluar malam. Orang lebih curiga. Orang ikut menyebarkan kabar, bukan karena ingin membuat gaduh, tetapi karena merasa sedang memperingatkan orang lain. Padahal, bisa jadi yang disebarkan belum benar.
Dalam psikologi klinis, ini dekat dengan catastrophic thinking. Yaitu kecenderungan membayangkan kemungkinan terburuk dari sebuah informasi. Video yang belum jelas langsung dianggap ancaman nyata. Foto yang kabur dianggap bukti. Cerita orang lain dianggap fakta.
Kecemasan memang sering membuat pikiran melompat lebih cepat daripada bukti.
Ketakutan juga dapat berubah menjadi hypervigilance. Ini keadaan ketika seseorang menjadi terlalu waspada terhadap kemungkinan bahaya. Orang yang hypervigilant selalu memindai lingkungan: ada suara apa, ada bayangan siapa, ada gerakan apa. Dalam kajian klinis, hypervigilance dan bias perhatian terhadap ancaman banyak dibahas sebagai bagian penting dalam gangguan kecemasan dan trauma.
BACA JUGA:Pancasila di Dinding atau di Diri? Menakar Ulang Makna Setiap 1 Juni
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: