F1 Bakal Pakai Mesin V8 Lagi di Musim 2031, Suara Ganasnya Siap Kembali!
Presiden FIA, Mohammed Ben Sulayem, mengusulkan perubahan besar pada regulasi power unit Formula 1 mulai 2031.-@mohammed.bin.sulayem-Instagram
HARIAN DISWAY – Formula 1 (F1) bersiap menghadapi revolusi besar pada musim 2031. Federasi Automobil Internasional (FIA) mempertimbangkan untuk menggandeng pihak ketiga sebagai pemasok mesin independen bagi tim pelanggan (customer team). Regulasi baru dirumorkan akan mengembalikan mesin V8 yang lebih ekonomis.
Dilansir dari Motorsport, Presiden FIA Mohammed bin Sulayem dan CEO F1 Stefano Domenicali memiliki visi yang sama. Mereka ingin menghadirkan generasi baru power unit V8 pada siklus regulasi F1 2031.
Rencana itu diharapkan dapat membuat mobil balap F1 menjadi lebih murah, lebih ringan, dan mengembalikan suara raungan mesin khas yang dirindukan para penggemar.
BACA JUGA:Bedah Data Lewis Hamilton, Charles Leclerc Bangkit Juara di F1 GP Inggris 2026
BACA JUGA:Kuasai Drama Silverstone, Charles Leclerc Rebut Podium Tertinggi GP Inggris
Keuntungan Mesin V8 untuk Masa Depan F1
Opsi paling realistis yang dibahas adalah beralih ke mesin V8 naturally aspirated yang dipadukan dengan sistem kelistrikan berukuran lebih kecil. Konsep ini diyakini memiliki banyak keuntungan:
Memangkas biaya pengembangan secara signifikan. Mengurangi bobot mobil balap. Mengembalikan karakter asli balapan F1 yang ganas. Membuka jalan bagi pemasok mesin independen tanpa harus membentuk tim balap sendiri.
Bagi Mohammed bin Sulayem, opsi ini jauh lebih sederhana dan murah daripada mesin F1 saat ini yang sangat kompleks. Regulasi baru ini juga dinilai bisa menyelesaikan konflik kepentingan antartim F1.
Langkah FIA ini menjadi solusi atas isu monopoli tim pabrikan yang mulai mengganggu sportivitas balapan.
Sebelumnya, CEO McLaren Zak Brown sempat menyurati FIA untuk memperingatkan akan dampak negatif aliansi antartim.
Brown mengkritik kepemilikan ganda Red Bull Austria atas Red Bull Racing dan Racing Bulls (RB). Hubungan ini dinilai menciptakan konflik kepentingan yang menguntungkan tim utama.
Isu serupa sempat memanas saat Mercedes berniat membeli 24% saham tim Alpine untuk memperluas pengaruh politik mereka, meski negosiasi tersebut akhirnya batal karena harga yang terlalu mahal.
BACA JUGA:Selamat dari Penalti, Lewis Hamilton Amankan Podium GP Inggris 2026
BACA JUGA:Charles Leclerc Menang di F1 GP Inggris 2026, Duo Ferrari Kuasai Podium 1 dan 3
Mengubah Tim Pelanggan Menjadi Tim Pabrikan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: