Perjumpaan Ilmu Pengetahuan dan Pengalaman Lapangan di Pulau Sebatik Indonesia-Malaysia
TIM peneliti Unair-UMS sedang meninjau bagan tancap di Sebatik.-Dok. Pribadi.-
PULAU Sebatik merupakan pulau yang wilayahnya dibagi oleh dua negara, yakni Indonesia dan Malaysia. Sebelah selatan merupakan wilayah Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, sedangkan di sebelah utara masuk Distrik Tawau, Sabah, Malaysia.
Kondisi tersebut membuat pulau itu memiliki tantangan yang unik. Misalnya, keterbatasan infrastruktur, kesulitan akses ekonomi, pendidikan, dan kesehatan. Di balik ketebatasan tersebut, pulau itu merupakan kawasan strategis yang memiliki peran penting dalam pembangunan sektor kelautan dan perikanan.
Menurut penelitian Fakultas Perikanan Universiti Malaysia Sabah, misalnya, kawasan laut Sebatik merupakan penghasil ikan kerapu terbaik di dunia.
Dengan pertimbangan tersebut, pada 16–21 Juni 2026, World University Association for Community Development (WUACD) bersama Universiti Malaysia Sabah (UMS) dengan melibatkan akademisi, profesor, peneliti, nelayan, serta pemangku kepentingan menyelenggarakan kegiatan yang bertema Community Empowerment Program in Sebatik Island yang didanai Program EQUITY (Enhancing Quality Education for International University Impacts and Recognition) Kementerian Pendidikan Tinggi dan Teknologi Republik Indonesia.
BACA JUGA:Pulau Sebatik dan Nasib Wilayah Terdepan Indonesia
BACA JUGA:AgenBRILink Hadir di Perbatasan Sebatik, Permudah Akses Keuangan di Wilayah 3T
Lina Puryanti, salah seorang peneliti dari Universitas Airlangga, menjelaskan bahwa kerja sama dengan UMS adalah bagian dari komitmen kedua perguruan tinggi dalam menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan bagi masyarakat yang hidup di kawasan perbatasan.
”Sebatik merupakan wilayah yang sangat strategis karena berada di antara dua negara. Oleh karena itu, kami menggandeng Universiti Malaysia Sabah sebagai mitra yang selama ini telah menjalin kerja sama dengan Universitas Airlangga,” lanjut Lina Puryanti.
Walaupun dihadiri akademisi dari dua negara yang concern pada bidang perikanan dan kelautan, penguatan sektor perikanan tidak dapat dilakukan hanya melalui pendekatan akademik.
Akan tetapi, dibutuhkan pemahaman yang utuh dan komprehensif terhadap realitas yang dihadapi masyarakat nelayan agar kebijakan yang dihasilkan benar-benar menjawab kebutuhan di lapangan.
Untuk itu, sejumlah kegiatan difokuskan pada dialog langsung dengan para nelayan. Tim akademisi dari kedua perguruan tinggi menggali berbagai persoalan yang selama ini menjadi tantangan masyarakat pesisir, termasuk pola penangkapan ikan, pemanfaatan sumber daya laut, aspek keberlanjutan lingkungan hingga dinamika aktivitas perikanan di wilayah yang berbatasan langsung dengan negara tetangga.
Kehadiran dan kolaborasi akademis dari dua negara mendapat apresiasi dari berbagai kalangan, baik pemerintah daerah, dewan perwakilan rakyat daerah (DPRD), maupun pemerintah lokal, dalam hal ini kecamatan dan desa.
Anggota DPRD Kabupaten Nunukan dari Daerah Pemilihan Sebatik Ramsah, misalnya, menilai kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam membangun kawasan perbatasan, terutama aspek perikanan, baik perikanan tangkap maupun budi daya.
Ia menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang tinggi kepada Universitas Airlangga (Unair) dan Universiti Malaysia Sabah (UMS) yang memilih Pulau Sebatik sebagai lokasi kegiatan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: