Sektor Ritel Indonesia Melambat, APPBI Soroti Dampak Ekonomi Global dan Tantangan Harga di Akhir Tahun Ini

Sektor Ritel Indonesia Melambat, APPBI Soroti Dampak Ekonomi Global dan Tantangan Harga di Akhir Tahun Ini

PENGUNJUNG MELINTAS di Atrium Tunjungan Plaza, 18 Januari 2026. Awal tahun ini, pengelola ritel diuntungkan momentum belanja beruntun.-disway.id-

JAKARTA, HARIAN DISWAY – Kinerja industri ritel sepanjang semester pertama 2026 menunjukkan pertumbuhan yang positif, namun lajunya cenderung melambat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Momentum pertumbuhan tersebut tercatat lebih banyak ditopang oleh performa solid pada triwulan pertama. Sementara pada triwulan II trennya mengalami perlambatan. 

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja mengungkapkan triwulan pertama 2026 menjadi penyumbang terbesar bagi performa ritel nasional. Hal itu didorong oleh serangkaian momentum musiman yang memicu lonjakan daya beli masyarakat.

"Kinerja semester pertama banyak ditopang oleh triwulan pertama yang dipenuhi faktor positif. Mulai dari perayaan Tahun Baru, kenaikan Upah Minimum, Imlek, hingga pembagian bonus kinerja 2025 dari perusahaan swasta. Selain itu, masa Ramadhan, Tunjangan Hari Raya (THR), dan Idul Fitri menjadi pendorong utama peningkatan penjualan sektor ritel," ujar Alphonzus kepada Harian Disway, Rabu 8 Juli 2026.

BACA JUGA:Industri Ritel Bersiap Hadapi 6 Bulan Paceklik, Atur Strategi dari Kemasan Mini hingga Brand Lokal

BACA JUGA:Tunjungan Plaza Tutup Sementara Hari Ini Imbas Kericuhan Aksi Solidaritas

Meski mengalami peningkatan di triwulan pertama, Alphonzus mengingatkan bahwa tantangan berat akan membayangi kinerja industri ritel pada semester kedua 2026. Ia memprediksi pertumbuhan tidak akan semaksimal semester pertama akibat kondisi global yang berdampak signifikan terhadap perekonomian banyak negara, termasuk Indonesia.

Ia menekankan bahwa sektor perdagangan dalam negeri yang merupakan pilar utama pertumbuhan ekonomi nasional, kini menghadapi tekanan berlapis. Selain dampak eksternal, berbagai isu domestik turut menekan performa sektor ini.

"Kinerja sektor perdagangan dalam negeri sulit mencapai hasil maksimal akibat berbagai tantangan. Antara lain kenaikan harga bahan baku, membengkaknya biaya logistik dan energi, pengetatan anggaran pemerintah, serta fluktuasi nilai tukar mata uang asing," jelasnya.

Menurut Alphonzus, akumulasi beban biaya tersebut berdampak langsung pada pola konsumsi masyarakat. Baik dari kelas menengah bawah maupun menengah atas. "Kondisi ini menuntut langkah antisipatif dari berbagai pihak," katanya. 

Meski begitu, industri ritel masih memiliki peluang untuk mendongkrak performa di sisa tahun ini melalui kinerja triwulan keempat. Periode Natal dan akhir tahun diproyeksikan menjadi peak season kedua bagi penjualan ritel di Indonesia.

Namun, tantangan krusial pada triwulan keempat adalah potensi kenaikan harga barang yang cukup signifikan. Hal ini terjadi karena peritel dan produsen harus menyiapkan stok produk baru. Sementara kenaikan faktor biaya produksi telah terjadi sejak triwulan kedua dan ketiga.

Menghadapi situasi ini, Alphonzus mendesak pemerintah untuk bekerja keras menstabilkan kondisi perekonomian domestik. Stabilitas nilai tukar Rupiah, tingkat suku bunga pinjaman, serta jaminan kelancaran pasokan energi dan listrik menjadi kunci utama.

"Stabilitas sosial politik dan berbagai faktor pendukung lainnya harus dijaga agar tidak semakin mengganggu sektor perdagangan dalam negeri. Konsumsi masyarakat adalah salah satu pilar utama pertumbuhan ekonomi nasional yang harus kita lindungi," pungkasnya. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: