Chef Agus Sasirangan Alumni MCI Bongkar Resep Soto Banjar, Bocorkan Strategi Pertahankan Kuliner Nusantara
Chef Agus Sasirangan (kanan) bersama Chef Elisa menjadi pemateri dalam Parade Chef di BaReLo Swiss-Belinn Airport Surabaya.- Dokumentasi Swiss-Belinn Airport Surabaya-
SIDOARJO, HARIAN DISWAY - Warisan kuliner tradisional Indonesia, pada masanya, adalah santapan sehari-hari nenek moyang kita. Karena itu, salah satu cara untuk melestarikannya adalah dengan sering-sering menghadirkannya di meja makan kita.
Karena tidak semua resep makanan tradisional hadir dalam bentuk tulisan, sebagian besar hanya lisan dan faktor kebiasaan, maka upaya untuk menularkan kuliner khas Nusantara juga tidak hanya di dapur rumah atau ruang-ruang kelas.
"Kita ini sekarang sedang menghadapi krisis kehilangan resep-resep masakan tradisional," ucap Chef Agus Sasirangan, runner-up Master Chef Indonesia (MCI) season I.
Saat menjadi narasumber Parade Chef di BaReLo Swiss-Belinn Airport Surabaya pada 29 Agustus 2026, ia mengatakan bahwa minat generasi muda dalam mempelajari kuliner Nusantara masih kurang.
BACA JUGA:Hotel Swiss Belinn Tunjungan Sajikan 101 Menu Kuliner Jawa Sambut Ramadhan
Dibandingkan kuliner modern, masakan Nusantara memang relatif lebih rumit proses memasaknya. Bahan-bahan yang dipakai juga seringkali sayur atau bumbu segar, yang perlu diproses juga. Bukan sekadar ambil di kulkas lalu dituang atau ditaburkan.
"Nah. Saya hadir di sini ini sebagai bagian dari generasi penerus yang mau melestarikan masakan-masakan khas daerah," tambah Chef Agus.

ILUSTRASI foto Soto Banjar dan perkedel. --YouTube/Devina Hermawan
Dalam Parade Chef itu, ia memperkenalkan Soto Banjar dengan cita rasa yang manis, gurih, dan tidak pedas. Cita rasa itu dipengaruhi oleh kondisi geografis dan interaksi nenek moyang dengan bangsa dari negara lain.
Dahulu, ada pedagang dari Tiongkok yang membawa dua jenis rempah, yaitu kaskas dan geganti. Kaskas atau white poppy seed umumnya digunakan sebagai penguat rasa dan aroma. Sedangkan, geganti termasuk sejenis kulit kayu yang dalam hidangan Tiongkok biasa dipakai untuk sup.
BACA JUGA:Harian Disway X Grand Qin Hotel (5): Menikmati Soto Banjar dengan Iringan Seni Madihin dan Panting
BACA JUGA:Nyam-nyam bareng Firitri: Soto Kerbau
Selain itu, ada pengaruh dari pedagang rempah Timur Tengah (Arab dan India) yang membawa kayu manis, cengkih, dan kapulaga. Jadi aromanya sangat kuat berkat rempah dan rasanya sedikit gurih.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: