Akibat keracunan Massal, Santri Ponpes Manbaul Hikam Sidoarjo Diliburkan Seminggu
Petugas TNI terjun ke lapangan, membantu korban santri Manbaul Hikam, Sidoarjo masuk ke ambulan, Rabu, 2 September 2026-Eko Setyawan-Harian Disway
SIDOARJO, HARIAN DISWAY - Evakuasi korban keracunan massal di Pondok Pesantren (Ponpes) Manbaul Hikam, di Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo dilakukan sejak Selasa sore, 1 September 2026.
Ratusan santri diangkut puluhan mobil ambulans menuju sembilan rumah sakit tujuan di Sidoarjo.
Hingga Rabu pagi, 2 September 2026, proses evakuasi masih terus berlanjut. Meski pun tak sebanyak seperti hari sebelumnya.
Mereka adalah peserta didik pesantren yang diduga menjadi korban keracunan menu masakan Makanan Bergizi Gratis (MBG). Yang disalurkan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Desa Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo.
Jumlah korban masih terus bertambah. Dari yang awalnya hanya belasan santri, kini sudah mencapai ratusan korban.
Tim masih terus melakukan update data. Pesantren tersebut menaungi sedikitnya seribu santri. Dan menjadi penerima manfaat MBG, sejak dua bulan terkahir.
BACA JUGA:Kalau Hajatan Bisa Dipidana, Bagaimana Dapur MBG?
BACA JUGA:Ratusan Santri Ponpes Manbaul Hikam Sidoarjo Dirawat, Pemkab Periksa SPPG dan Amankan Sampel MBG
Data sementara yang terhimpun dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo melalui dinas terkait mencatat, sebanyak 550 lebih menalami gejala.
Sebanyak 450 santri tim medis menyatakan kondisi pasien sudah stabil. Mereka sudah bisa dipulangkan. Sebanyak 80 pasien lebih masih menjalani perawatan intensif di sejumlah rumah sakit.
Petugas kesehatan sudah mengambil sampel dari bahan-bahan yang dimanfastkan untuk produksi menu MBG. Termasuk muntahan pasien.
Sampel itu telah dibawa ke laboratorium di Surabaya untuk dilakukan penelitian. Yang hasilnya, dimungkinkan akan keluar dalam waktu seminggu mendatang.
Di area pesantren, mobil ambilan masih terlihat disiagakan. Ada belasan ambulans: lebih sedikit jika dibandingkan dari hari kemarin. Termasuk tenaga kesehatan dan medis, masih berjibaku dengan pasien-pasien baru.
Hingga kini, masjid pesantren juga sementara masih difungsikan menjadi ruang darurat. Pasien laki-laki dan perempuan dipisahkan. Mereka dibaringan di atas kasur.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: