Teknologi dan Perilaku Pelanggan di Era AI Berubah, Apa yang Perlu Dipelajari Seorang Sales?
--
JAKARTA, HARIAN DISWAY – Artificial intelligence (AI) mulai mengubah cara perusahaan berjualan. Bukan hanya pekerjaan administratif yang terdampak. Cara salesperson membaca pelanggan, mengelola prospek, berkomunikasi, hingga mengejar target juga ikut berubah.
Di tengah perubahan itu, kemampuan menjual saja tidak lagi cukup. Salesperson dituntut memahami data dan perilaku pelanggan, membangun komunikasi yang relevan, serta memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan kemampuan membaca kebutuhan manusia.
Persoalan tersebut akan menjadi bahasan utama KopDar Sales #3: Jualan di Era AI yang digelar Marketeers Event, bagian dari MCorp, Rabu, 9 September 2026 di XXI Kuningan City. Forum itu diproyeksikan diikuti sekitar 500 profesional Sales dari berbagai industri.
Bagi dunia penjualan, perkembangan AI menghadirkan dua sisi sekaligus. Teknologi bisa mempercepat pekerjaan dan membantu mengolah prospek. Namun, keputusan untuk membangun kepercayaan, memahami konteks pelanggan, melakukan negosiasi, hingga menentukan pendekatan yang tepat tetap membutuhkan kemampuan manusia.
KopDar Sales #3 membedah persoalan tersebut dari sejumlah tahapan yang dekat dengan pekerjaan salesperson. Mulai dari menjalankan strategi, membaca customer insight, membangun reputasi digital, melakukan presentasi, menangani keberatan pelanggan, mengolah leads, hingga menjaga pengalaman pelanggan setelah transaksi.
Sesi tersebut dikemas dengan nama menu kopi. Ada Espresso untuk eksekusi strategi penjualan, Piccolo untuk memahami customer insight, Americano untuk membangun reputasi dan citra online, serta Cappuccino yang membahas cara mempresentasikan produk kepada klien.
Berikutnya ada Mocha, yang membahas bagaimana keberatan pelanggan dapat diubah menjadi peluang aksi; Cold Brew mengenai pengelolaan leads hingga menjadi deal; serta Latte yang menyoroti layanan dan pengalaman pelanggan.
Sejumlah praktisi dari berbagai industri akan membagikan pengalaman mereka. Di antaranya Marthani, Head of Retail & Loyalty MCorp; Baby Antonetha, Founder & CEO Warna Emas Indonesia; Jelita Setifa, General Manager The Palace; Didith Noerdiansyah, Chairman Brodo; Feriani Chung, Chief Marketing Officer ZAP; Fajar NF, Executive Creative Director; dan Gabriel Vidyanto, Head of Product Tada.
Latar belakang yang berbeda menjadi penting karena perubahan perilaku pelanggan tidak terjadi dengan pola yang sama di setiap industri. Strategi yang berhasil di satu sektor belum tentu dapat diterapkan begitu saja di sektor lain.
Selain diskusi, forum tersebut juga menyediakan sesi networking bagi para peserta.
BACA JUGA:MarkPlus Berikan Sejumlah Penghargaaan Marketing di Jatim, Salah Satunya untuk Blesscon
Bukan Sekadar Target
Perubahan dunia sales juga menjadi latar belakang penyelenggaraan Sales Leader Award of the Year (SLAY) 2026. Penghargaan tersebut memberikan apresiasi kepada salesperson maupun perusahaan yang dinilai mampu menjaga dan meningkatkan performa penjualan di tengah perubahan kondisi ekonomi.
Penilaian SLAY tidak semata-mata melihat hasil akhir penjualan. Ada tiga aspek yang menjadi dasar penilaian, yakni Sales Foundation dengan bobot 40 persen, Sales Implementation 40 persen, dan Sales Optimization 20 persen.
Tahun ini terdapat 10 kategori penghargaan, antara lain Sales Presentation Excellence Award, Sales Negotiation Excellence Award, Key Account Excellence Award, Sales Strategy Excellence Award, CRM Excellence Award, After-Sales Service Excellence Award, Online Selling Mastery Excellence Award, Sales Coaching Excellence Award, Service Recovery Excellence Award, dan Technical Sales Excellence Award.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: