Ulasan Buku Dwi Bahasa Lima Jam Selepas Pukul Lima: Ketika Hidup Perempuan Terus Dihitung

Ulasan Buku Dwi Bahasa Lima Jam Selepas Pukul Lima: Ketika Hidup Perempuan Terus Dihitung

ILUSTRASI CERPEN Lima Jam Selepas Pukul Lima memotret kegetiran tokoh perempuan yang terperangkap dalam dilema peran sebagai istri, ibu, dan anak.--Yoes Wibowo untuk Harian Disway

Lima Jam Selepas Pukul Lima karya Wina Bojonegoro menggugah jiwa saya. Semua tokoh perempuan di sana selalu berhadapan dengan beban yang harus mereka tanggung sendiri. 

MEREKA mencintai, bekerja, menjadi ibu, menjadi anak, berpindah kota, kehilangan rumah, berhadapan dengan kekuasaan, bahkan berhadapan dengan kematian. Namun, ada satu hal yang diam-diam menyatukan mereka: angka.

Sembilan cerpen dalam buku dwi bahasa ini menghadirkan angka dalam banyak rupa. Jam, usia, tahun, tarif, uang, harga, keuntungan, saham, luas lahan, hingga harta. 

Di sinilah Lima Jam Selepas Pukul Lima menjadi menarik. Angka dalam buku ini bukan sekadar penanda waktu atau jumlah. Ia menjadi peanda nilai. 

BACA JUGA:Memaknai Instalasi Sastra Peluncuran Buku Lima Jam Selepas Pukul Lima: Meruahnya Kata, Melimpahnya Tanda

BACA JUGA:Pameran Instalasi Iringi Peluncuran Buku Dwi Bahasa Wina Bojonegoro, Lima Jam Selepas Pukul Lima

Berapa harga seseorang, berapa lama seseorang menunggu, berapa nilai sebuah mimpi, berapa keuntungan yang bisa diperoleh dari pembabatan hutan, dan pada akhirnya, berapa harga yang harus dibayar seseorang untuk mempertahankan hidupnya.

Wina menempatkan para tokoh dalam situasi yang berbeda, tetapi semuanya sedang berusaha mengambil kembali kendali atas hidupnya. Dalam "Suatu Senja di Jalan Tunjungan", misalnya.


WUJUD BUKU dwi bahasa Lima Jam Selepas Pukul Lima resmi diluncurkan pada 29 Agustus 2026 di Omah Padma, Semambung, Pasuruan.--Dokumentasi Omah Padma

Seorang laki-laki meninggalkan perempuan yang dicintainya demi orang lain. 12 tahun kemudian mereka bertemu kembali. Laki-laki tersebut berharap perempuan yang ditinggalkannya masih cinta. 

Namun, tentu saja perempuan itu sudah memiliki laki-laki lain. 12 tahun bukan sekadar angka. Ia menjadi harga dari sebuah keputusan. Yang dahulu setia menunggu, ternyata tidak selamanya tetap berada di tempat yang sama. Perempuan itu akhirnya memegang kendali atas pilihannya sendiri, melanjutkan hidup.

BACA JUGA:Cheng Yu Pilihan: Wina Bojonegoro Founder Padmatour Organizer, Padmedia Publisher, dan Omah Padma: Ren Ge You Zhi

BACA JUGA:Padmedia Terbitkan Kopi Aren di Benteng Kedung Cowek sebagai Kado buat Suroboyo

Pola serupa dengan alur lebih ekstrem hadir dalam "Kupu Kupu Merah Marun". Seorang perempuan pemain peran menerima pekerjaan untuk berpura-pura menjadi pasangan si customer dalam pesta keluarga. Di sana, dalam transaksi Rp30 juta itu, dia bertemu customer lainnya yang kemudian membuat rekeningnya terisi puluhan juta lagi.

Identitas si pemain peran bisa berganti-ganti, sesuai kebutuhan pekerjaan. Tubuh dan identitasnya menjadi komoditas, tetapi justru di situlah dia menemukan kuasa. Dia menentukan tarif, memilih peran, dan mengatur kehidupannya sendiri. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: