Semarakkan Hari Batik Nasional 2026, Model-Model DWP Provinsi Jatim Peragakan Busana di Runway

Semarakkan Hari Batik Nasional 2026, Model-Model DWP Provinsi Jatim Peragakan Busana di Runway

Para anggota Dharma Wanita Persatuan (DWP) Provinsi Jawa Timur memeragakan 35 busana dalam Hari Batik Nasional, Sabtu, 3 Oktober 2026-Rossa Handini-Harian Disway

SURABAYA, HARIAN DISWAY - Dharma Wanita Persatuan (DWP) tak mau ketinggalan dalam peringatan Hari Batik Nasional (HBN) 2026 di Surabaya. Mereka menampilkan kreasi batik khas Tulungagung dalam peragaan busana (fashion show) di Atrium Tunjungan Plaza 3 pada Sabtu, 3 Oktober 2026. 

Peragaan busana itu merupakan bentuk apresiasi dan dukungan nyata DWP terhadap karya para perajin serta pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) batik lokal. Setidaknya ada 35 model yang menampilkan hasil UMKM batik pada Sabtu siang itu.

Para model yang dimaksud adalah anggota DWP Provinsi Jatim sendiri. Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Provinsi Jatim Isye Sri Rahayu Adhy Karyono menjelaskan bahwa fashion show HBN 2026 itu selaras dengan visi misi organisasi. 

Melalui momentum HBN 2026, DWP berkomitmen mendukung produk unggulan Provinsi Jatim, khususnya Batik Tulungagung yang menjadi salah satu ikon kebanggaan provinsi, sekaligus menjadi tema utama HBN 2026.

BACA JUGA:Makna Batik Tulungagung di Balik Tema Utama Hari Batik Nasional 2026 di Surabaya

BACA JUGA:Batik Berlayar Semarakkan Hari Batik Nasional 2026 di Surabaya

"Kegiatan ini nantinya bisa menginspirasi program-program kerja Dharma Wanita ke depan. Misalnya, ikut serta memajukan para pengusaha dan pengrajin kecil atau UMKM, khususnya di bidang batik," ujarnya.

Isye juga menyoroti ketertarikan generasi muda terhadap wastra Nusantara, khususnya batik. Dia menilai bahwa Gen Z dan Gen Alpha saat ini sudah mulai menunjukkan kecintaan yang lebih besar terhadap batik. 


PARA MODEL DWP Provinsi Jatim memeragakan kreasi busana dengan motif khas Batik Tulungagung di Atrium Tunjungan Plaza 3 pada Sabtu, 3 Oktober 2026. -Rossa Handini-Harian Disway

Hal ini didorong oleh kreativitas para pengrajin dan kreator yang berinovasi menciptakan motif batik kekinian yang lebih bisa diterima oleh anak muda. Selain itu, kebijakan sekolah yang menerapkan hari tertentu untuk mengenakan batik juga turut membangun kesadaran tersebut.

Berdasarkan pemaparan dalam sesi gelar wicara Batik Kreatif untuk Generasi Masa Depan, Isye menyebut generasi muda saat ini cenderung menyukai motif batik yang lebih simpel. "Mereka lebih memilih desain yang tidak terlalu penuh dan memiliki kombinasi warna atau ruang polos," ungkapnya.

BACA JUGA:Hari Batik Nasional 2026 Dibuka di Surabaya, Angkat Batik Tulungagung

BACA JUGA:Surabaya Jadi Pusat Hari Batik Nasional 2026, Siapkan Atraksi Batik Berlayar hingga Pameran Berbasis AI

Selain perkembangan motif, ternyata industri batik lokal juga terus berinovasi dengan memanfaatkan pewarna alami ramah lingkungan yang diekstrak dari tumbuh-tumbuhan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: