ArtJog Lagi, Kapan ArtBaya?

Selasa 12-07-2022,05:00 WIB
Reporter : Arif Afandi

SAYA bukan seniman. Karena itu, ketika menyaksikan ArtJog 2022, bukan impresi seni yang saya rasakan. Yang muncul rasa iri, kenapa yang seperti itu tidak tumbuh di Surabaya.

Pameran kesenian kontemporer tersebut telah berjalan sejak 2010. Dua tahun terakhir digelar secara daring karena pandemi. Sebelum berdiri sendiri, dulu bagian dari Festival Kesenian Yogyakarta (FKY).

Saya menonton ArtJog dua hari setelah pembukaan, 7 Juli 2022. Sebelum itu, beberapa kali setiap saat berada di Jogja, saya menyempatkan nonton event tersebut. Baik sendiri maupun bersama keluarga.

Ini bukan sekadar pameran lukisan. Tapi, unjuk segala karya seni kontemporer. Ada seni rupa, ada seni instalasi, fotografi, videografi dan seni audio visual. Tahun ini mengambil tema Expanding Awareness.

Saya perlu penerjemah karya seni untuk memahami semua karya yang ditampilkan. Kebetulan ada salah seorang anak saya yang menjadi mahasiswa ISI. Nizar Mohamad Afandi namanya. Ia yang awal tahun lalu berkarya lewat ArtWeding di Surabaya.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, ArtJog digelar di Jogja Nasional Museum (JNM). Di samping SMAN 1 atau SMA Teladan. Yang banyak melahirkan tokoh lokal dan nasional. Susi Pudjiastuti salah satunya.

Ketika tahun ini ArtJog kembali digelar secara luring, perhatian saya tertuju kepada pengunjungnya. Dengan harga tiket masuk Rp 75 ribu, pengunjung ArtJog makin memuda. Banyak generasi Z yang berdatangan. Generasi pengguna Instagram dan Tik-Tok.

Itu berbeda dengan 2019. Yang masih lebih dominan generasi berusia. Banyak ibu-ibu yang menjadi pengunjungnya. Yang datang untuk menikmati karya seni atau sekadar selfie dan wefie. Di antara banyak karya yang dianggap instagramable.

Ternyata bukan hanya penonton yang memuda. Seniman yang terlibat juga demikian. ”Makin ke sini makin banyak seniman muda yang ikut dalam ArtJog. Karyanya pun hebat-hebat,” kata Budi Irawanto, pengamat seni kontemporer dari Universitas Gadjah Mada (UGM).

Menurutnya, memudanya pengunjung ArtJog menunjukkan event kesenian itu berhasil membangun brand yang kuat. Dengan demikian, ia telah menjadi bagian dari gaya hidup baru dari anak-anak muda. Mereka merasa keren dengan mengunjungi ArtJog.

ArtJog tahun ini juga istimewa. Sebab, mulai melibatkan seniman anak dan remaja. Juga, menggandeng seniman difabel. Ada 14 seniman anak dan remaja yang lolos kurasi dari 70 peserta yang mendaftar dari seluruh Indonesia.

Tahun ini ArtJog juga memilih para seniman muda lewat Youth Artist Award (YAA) 2022. Mereka yang terpilih adalah Dzikra Afifah (Bandung), Rizka Azizah Hayati (Yogyakarta), dan Timoteus Anggawan Kusno (Yogyakarta). Dzikra menampilkan karya figur tanah liat, Rizka memamerkan karya Megical Crocodile, dan Anggawan dengan Video Art-nya.

Bahwa ArtJog bisa menarik kalangan muda untuk menikmati seni juga terbukti lewat ArtWedding yang viral di media sosial. Peristiwa yang terjadi Januari 2022 tersebut menjadi viral karena menyebut ArtWedding di sebuah hotel di Surabaya itu bernuansa seperti ArtJog.

Tema Expanding Awareness yang diangkat tahun ini merupakan rangkaian ArtJog arts-in-common yang diselenggarakan sejak 2019. Di dalamnya terdapat triplet tematik: Ruang, Waktu, dan Kesadaran. Kita digugah untuk mengembangkan kesadaran tentang sejarah, alam, dan manusia.

Memasuki arena ArtJog, kita disuguhi karya Christine Ay Tjoe, seniman asal Bandung. Ia mengangkat karya instalasi berjudul Personal Denominator. Ia ingin menggambarkan daya hidup manusia yang selalu ada. Itu karya hasil refleksi terhadap yang dia serap selama pandemi.

ArtJog menggunakan tiga lantai ruang pameran JNM. Tidak ada gradasi dari setiap karya yang dipajang di setiap ruang dan lantai. Semuanya di-blanded menjadi kesatuan dalam tema besar. Tidak ada kasta dari setiap ruang dan lantai.

Yang menarik, hampir semua seniman yang memajang karyanya berasal dari Jogja dan Bandung. Hanya ada satu seniman yang belajar seni di Surabaya tapi tinggal di Jogja yang ikut dalam event itu. Dia adalah Nunung W.S. Dia menyajikan karya seni lukis akrilik di atas kanvas ukuran 235 x 330 sentimeter: Dimensi Tenun.

Itu membuktikan bahwa kiblat seni kontemporer sekarang berada di dua kota tersebut. Beberapa tahun lalu Bandung adalah pusatnya. Tapi, kini Jogja telah merangkak mengikutinya. Bahkan, bisa disebut telah menyalipnya lewat ArtJog. Ia telah berkembang dari yang dulu hanya kota seni klasik menjadi juga seni kontemporer.

Ada dua hal yang membuat ArtJog mampu menandai perkembangan dunia kreatif di Jogja. Pertama, konsistensi penyelenggaranya. Kedua, ekosistem dan sarana pendukung lahirnya karya kreatif di Jogja.

Harus diakui, kemampuan bertahan ArtJog untuk terus berjalan lebih dari 10 tahun membuktikan konsistensi penyelenggaranya. Melalui Heri Pemad Art Management, pameran karya seni itu bisa bertahan dalam situasi apa pun. Disertai dengan kuratorial yang terjaga dari tahun ke tahun.

Ekosistem dunia kreatif di Jogja juga berhasil menelurkan para seniman yang terus bersaing dalam kreativitas. Mereka tidak pernah berhenti berkarya. Bahkan, belakangan para maestro berusaha mengatrol para seniman muda dalam berbagai bidang seni.

Sarana pendukung kesenian juga bertebaran. Jogja National Museum, misalnya, juga berkembang menjadi lebih inklusif. Kini, di halaman  belakang berdiri M Bloc JNM, tempat nongkrong hit bagi anak-anak muda di Jogja.

Tempat nongkrong dengan tema Art, Culture, and Entertaiment In a Historical Site itu merupakan proyek cipta ruang (place making). Memanfaatkan bekas kampus ASRI, hasil kolaborasi antara M Bloc Group dan Jogja National Museum.

Belum lagi banyak galeri, gedung kesenian, dan tempat pameran yang memadai. Baik milik pemerintah maupun milik swasta alias seniman yang banyak bertebaran di Jogja. Mereka tak hanya bersaing menbangun. Tapi, juga mengisi dan menghidupkannya.

Para insan kreatif Jogja telah berhasil merespons segala bangunan dan venue yang ada di kota tersebut dengan ciamik. Geliat para seniman dan insan kreatif itu telah ”memaksa” pemerintahnya untuk mendukungnya.

Dunia kreatif Jogja telah berhasil melahirkan banyak hal yang menarik. Menjadikan kota itu makin menarik untuk dikunjungi. Bahkan, menelurkan banyak tren yang dulu dikuasai Jakarta, Bandung, dan kota besar lain seperti Surabaya.

Kalau ArtJog bisa menggeser kiblat seni kontemporer ke Jogja, apa kira-kira yang bisa dimunculkan Surabaya? Kapan ArtBaya alias ArtSurabaya bisa lahir untuk mewadahi dunia kreatifnya? Itu perlu menjadi renungan bersama.(*)

Tags :
Kategori :

Terkait