KENT Kurniawan Handi yang seorang advokat, menjadikan ayat-ayat Alkitab sebagai pegangan hidupnya. Salah satunya 1 Petrus 3:10-11. Yang bunyinya: "Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu. Ia harus menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik, ia harus mencari perdamaian dan berusaha mendapatkannya."
Sebab, petuah klasik Tiongkok mengatakan, "病从口入, 祸从口出" (bìng cóng kǒu rù, huò cóng kǒu chū): penyakit berasal dari yang masuk ke mulut, petaka berasal dari yang keluar dari mulut.
Tak heran bila pepatah Arab menegaskan, "Salaamatul insaan fii hifdzil lisaan" (keselamatan seseorang terletak pada kemampuannya menjaga lidahnya).
Makanya, filsuf agung Konfusius dalam kitab Liji (礼记) dan Lun Yu (论语) mengimbau kita untuk "谨言慎行" (jǐn yán shèn xíng): hati-hati ketika berbicara dan bertindak. Mesti "三思而后行" (sān sī ér hòu xíng): pikir berkali-kali baru membuat keputusan.
Konfusius bahkan mengategorikan orang yang arif bijaksana adalah orang yang "讷于言而敏于行" (nè yú yán ér mǐn yú xíng): pelan bicaranya tapi gesit kerjanya. Bukan malah sebaliknya.
Barangkali itulah mengapa Nabi Muhammad mengajak kita untuk "mengatakan yang baik, atau pilih diam saja" (fal yaqul khoiron, aw liyashmuth).
Persis Sang Buddha yang, dalam Dhammapada XVII: 4, meminta kita untuk berbicara benar, tidak suka marah-marah, dan memberi bantuan kepada yang membutuhkan walaupun sedikit jumlahnya (saccaṁ bhaṇe, na kujjheyya, dajjāppasmim-pi yācito, etehi tīhi ṭhānehi).
Intinya, sebagaimana ajaran Hindu yang dikristalkan dalam Nitisastra V.3,
"Wasita nimittanta manemu laksmi.
Wasita nimittanta pati kepangguh.
Wasita nimittanta manemu dukha.
Wasita nimittante manemu mitra."
Yang artinya:
"Oleh perkataan, engkau akan mendapat kebahagiaan.
Oleh perkataan, engkau akan mendapat kematian.