Rumah Berkonsep Bunker untuk Tiga Generasi

Kamis 27-10-2022,11:46 WIB
Reporter : Anggun Ciptaningsih
Editor : Retna christa

BANGKOK, Harian Disway - Sebuah rumah bergaya misterius berdiri di sebuah lapangan golf di pinggiran Bangkok, Thailand. Dinding-dindingnya yang berwarna kelabu gelap tebal dan kokoh. Terkesan gelap dan dingin. Persis bunker. Meski begitu, bagian dalamnya jauh dari kesan mengerikan. Sebaliknya, rumah ini sangat indah, homey, dan bermandi cahaya.


TERLETAK di sebuah pulau di tengah lapangan golf, rumah bunker Suwansawat sangat asri. -threesixzero production-

Properti seluas 1100 meter persegi itu merupakan kediaman tiga generasi. Pemiliknya adalah Suchatvee Suwansawat, seorang profesor teknik sipil. Ia merancang sendiri rumahnya. Bentuknya terinspirasi oleh ziggurat. Yakni bangunan kuil dari batu dari zaman Mesopotamia kuno.  

’’Saya dulu punya mimpi, kalau mau membangun rumah, harus berbeda,’’ kata Suwansawat, dalam wawancara dengan Channel News Asia. ’’Rumah itu harus terlihat seperti rahasia. Harus tampak seperti bunker,’’ paparnya.

’’Buat yang hanya melihat sekilas, pasti penasaran. Karena bangunannya memang tidak seperti rumah. Tetapi bagian dalamnya sangat berbeda dengan yang terlihat dari luar. Rumah ini terasa sangat nyaman,’’ lanjutnya.

Membuat rumah yang sederhana tapi berbeda sangat menantang Suwansawat. Ia ingin rumah bergaya modern. Tidak hanya dari style-nya. Tapi juga dari metode pembuatannya. Karena itu, Suwansawat tak ragu menyebut rumah itu sebagai keajaiban arsitektur. Tapi juga bukti dari kejeniusan teknik sipil.  

Salah satu yang mencolok dari rumah itu, kata Suwansawat, adalah tidak memiliki tiang. ’’Untuk mewujudkannya, tentu butuh banyak pendekatan teknik. Perlu perhitungan tingkat tinggi untuk mengukurnya,’’ jelasnya.


Salah satu spot unik di rumah Suwansawat adalah kolam renang di teras lantai dua. -threesixzero production-channel news asia

Meski berlokasi di tengah lapangan golf, rumah Suwansawat tidak bisa melarikan diri dari iklim tropis Bangkok. Kalau sore, udaranya gerah. Padahal, dinding rumahnya begitu tebal. Ia menggunakan lapisan bata ganda agar kokoh. Maka, pemecahannya, ia menutup bata dengan lapisan baja. Yang bertindak sebagai isolator panas.

Jadi, sebelum menembus ke dalam rumah, panas matahari diperangkap oleh ruang kosong yang ada di antara lapisan bata dengan baja. Alhasil, bagian dalam rumah tetap sejuk.

Bagaimana dengan pencahayaan? Apakah struktur bangunan tidak membuat rumah itu gelap? Oh, Suwansawat punya solusi sendiri. Di bagian tengah bangunan, ia membangun sebuah taman kecil dengan void tinggi. Menembus atap.


TAMAN TENGAH model void dengan pohon tinggi yang menembus sampai lantai dua. -threesixzero production-

Sedangkan ruangan yang mengelilingi taman itu hanya dibatasi oleh kaca dan pintu geser. Sehingga sinar matahari yang masuk melalui void bisa membanjiri ruangan-ruangan dengan bebas. Saat siang, rumah jadi terang benerang. ’’Pohon yang ada di taman tengah ini membuatku terkoneksi dengan lingkungan dan alam,’’ kata pria 50 tahun tersebut.

Rumah Suwansawat, yang dibangun selama enam tahun, terdiri dari 23 ruangan. Dilengkapi garasi, gym, home theatre, beberapa ruang keluarga, serta ruang kerja. Memang perlu sebanyak itu. Karena rumah tersebut dihuni tiga generasi sekaligus. Ada ayah ibu Suwansawat, ia dan istrinya, serta anak tunggalnya yang masih SD.

’’Rumah ini dibangun disesuaikan dengan gaya hidup keluargaku. Aku dan istriku senang bekerja. Sehingga kami perlu memiliki ruang kerja dengan meja besar yang kadang-kadang kami gunakan sebagai ruang pertemuan,’’ papar Suwansawat. ’’Untuk anakku, ada ruang bermain sendiri. Tapi aku memastikan kami punya tempat untuk berkumpul dan beraktivitas bersama,’’ jelasnya.


PLAYROOM anak dipenuhi mainan pengasah ketangkasan dan daya pikir.-threesixzero production-

Sentuhan desain yang cerdas, seperti rak tersembunyi di balik panel dinding kantor, digunakan sebagai lemari arsip. Ada juga pintu rahasia di bawah kolam renang. Yang mengarahkan kita ke ruangan favorit Suwansawat. Yakni perpustakaan. Tak hanya buku, ruangan yang lebih seperti man cave itu menyimpan koleksi action figure milik Suwansawat.


Suwansawat berada di dalam perpustakaan yang didekorasi dengan koleksi action figure superhero Marvel. -threesixzero production-

’’Aku suka banget Iron Man,’’ kata Suwansawat, tentang koleksi superheronya yang dikurasi dengan ketat. ’’Aku menata ruangan ini sekehendak hatiku. Untuk menambah kenyamanan saat bekerja maupun belajar,’’ tutur alumnus Teknik Sipil dan Lingkungan Massachusetts Institute of Technology (MIT) tersebut.

Melihat kembali proses mendesain dan membangun rumah impian, Suwansawat punya gagasan soal rumah. ’’Rumah itu enggak perlu mewah dan besar. Tapi bagaimana membuat rumah itu menjadi hunianmu. Kamu harus hidup dengan baik, bahagia bersama keluarga dan orang-orang tercinta. Dan merasa nyaman di situ. Itulah yang paling penting dari sebuah hunian,’’ pungkas Suwansawat. (*)

Kategori :