Berkaca dari “Extracurricular”: Kok Bisa Tawuran Remaja Makin Merajalela?

Rabu 06-09-2023,16:29 WIB
Oleh: Widiharti

HARIAN DISWAY - Tawuran antarpelajar di berbagai daerah sedang marak. Sebuah aksi anarkis yang dilakukan beberapa remaja hingga menimbulkan kegaduhan bagi Masyarakat sekitar. Mengapa ya?

 

Penyebab aksi ini beragam. Ada yang disebabkan karena hal sepele, seperti saling meledek dan menghina hingga memunculkan dendam yang akhirnya menyulut aksi tawuran.

 

Ada pula yang awalnya diajak berkelahi melalui media sosial kemudian melakukan aksi nyata untuk saling adu jotos.

 

Maraknya aksi kenakalan remaja ini mengingatkan saya dengan sebuah drama Korea pada 2020 yang menceritakan kenalakan remaja siswa SMA. Judulnya Extracurricular.

 

Beberapa siswa melakukan tindakan kriminal untuk mendapatkan uang. Pemeran utama dalam drama ini adalah Oh Ji Soo. Dia dikenal sebagai siswa teladan di sekolahnya.

 

Selain itu, Ji Soo sangat pendiam dan tidak pernah berulah atau melakukan tindakan yang melanggar aturan sekolah. Tapi siapa sangka, di balik kepandaian seorang anak pemalu, Ji Soo diam-diam menyimpan rahasia besar dalam hidupnya.

 

Di luar sekolah, dia bersama beberapa teman sekolahnya justru terlibat tindakan kriminal yang besar dan sangat berbahaya. Tindakannya tersebut membuat hidupnya dan beberapa kawan yang terlibat menjadi terancam.

 

Dalam K-drama ini muncul mantan artis cilik, Jun Da Bin yang memerankan sosok Seo Min Hee. Dia adalah teman satu sekolah Ji Soo. Seo Min Hee dikenal sebagai pembuat onar dan suka melakukan tindakan perundungan di sekolah.

 

Hingga suatu hari, dia bersama kawan-kawannya terlibat tindakan kriminal bersama Ji Soo. Sebagai penonton K-drama ini, saya dibuat terkejut dengan adegan-adegan di mana Ji Soo sungguh sangat lihai menipu teman-teman sampai guru-guru di sekolahnya.

 

Dengan kepolosan wajahnya, siapa sangka dia ternyata sosok di balik rencana tindakan kejahatan. Segala tindak tanduknya dan rencana-rencana yang dilakukannya begitu matang layaknya seseorang yang telah lama berkecimpung melakukan kejahatan.

 

Sebagai pendidik, saya merasa miris mendengar beberapa pemberitaan aksi kenakalan remaja belakangan ini. Terkadang merasa khawatir dan curiga, “Apakah ada anak didik saya yang melakukan tindakan seperti ini?”

 

Tidak menutup kemungkinan bahwa di luar sana, mungkin tanpa sepengatahuan saya sebagai seorang guru, ada siswa yang melakukan tindakan-tindakan yang melanggar hukum.

 

BACA JUGA: Tawuran, Pelajar Tewas Kehabisan Darah

 

Entah karena di usia mereka yang masih muda, penasaran dengan sesuatu hal baru. Atau memang karena keadaan yang mengharuskan mereka akhirnya bertindak kriminal.

 

Sehingga tanpa mempertimbangkan akibat dari perbuatan yang dilakukan, mereka dengan mudah tersulut emosi dan terjebak dalam sebuah kejahatan.  

 

Terkadang bukan karena keinginan, mereka melakukan kejahatan.  Tetapi ajakan teman-teman dalam pergaulan yang salah hingga memancing mereka terlibat dalam aksi tawuran.

 

Tidak sedikit orang tua yang tidak terima jika anaknya melakukan kejahatan. Karena mereka hanya mengetahui anaknya begitu baik dan penurut saat di rumah.

 

Ada juga orang tua yang malah menyalahkan pihak sekolah ketika anaknya berbuat kesalahan seperti melakukan tindakan bully. Bukankah sering kita melihat pemberitaan ada orang tua yang tidak terima ketika anaknya dihukum oleh seorang guru karena melakukan kesalahan?

 

Bukan karena profesi saya seorang guru lantas saya membela posisi guru. Tetapi, bisakah orang tua tidak dengan mudahnya menyalahkan guru tanpa mencari tahu terlebih dahulu mengapa guru melakukan tindakan tersebut?

 

Guru di sekolah pun sebagai orang tua siswa didiknya, sama dengan orang tua di rumah yang ingin mengajarkan kebaikan kepada anak-anaknya.

 

Bahkan sempat viral sebuah kasus seorang guru SMA di Bengkulu mengalami luka parah di bagian matanya lantaran diketapel oleh orang tua siswa. Kok bisa?

 

Kejadian ini berawal dari seorang guru yang memergoki siswa merokok di lingkungan sekolah. Guru tersebut menendang sebagai peringatan bahwa siswa telah melanggar aturan sekolah.

 

Karena siswa tidak terima dengan perlakuan gurunya, dia melaporkan kepada ayahnya. Kemudian ayahnya pun tidak terima, akhirnya mendatangi guru tersebut dengan membawa ketapel dan melukai bagian mata guru tersebut.

 

Jika orang dewasa tidak mampu mengendalikan diri dalam menyelesaikan permasalahan, lantas bagaimana dengan anak-anak remaja?

 

Orang tua dan guru selayaknya mampu menjalin komunikasi yang baik sehingga menjadi teladan baik bagi anak-anak bagaimana untuk bersikap dan bertindak dalam menyelesaikan permasalahan. (Oleh Widiharti: Guru Matematika SMKN 1 Lelea, Indramayu)

Kategori :