Harley Sultan

Selasa 17-10-2023,17:15 WIB
Reporter : Arif Afandi
Editor : Yusuf Ridho

DUA pekan lalu serombongan pengendara Harley-Davidson dari Surabaya menyusuri aspal di Kalimantan. Mulai Kalimantan Timur hingga Kalimantan Selatan. Melalui jalanan yang mulus di tengah hutan.

Di tengah jalan, mereka sempat bertemu dengan rombongan pengendara Harley lainnya. Salah satunya seorang rider berusia 79 tahun asal Blitar, Sulistyo. Pengusaha alat-alat berat itu touring bersama anak-anaknya. 

”Sungguh kami baru tahu kalau jalan-jalan di Kalimantan sekarang sangat mulus. Ratusan kilometer dan melewati banyak hutan. Jadi, kami betul-betul bisa menikmati suasana Indonesia yang baru,” ujar Mursyid Murdiantoro, pengacara yang belum lama menggemari Harley itu.

Arek kelahiran Magetan, Jatim, tersebut sempat jengah. Sebab, selama ini yang terkenal memiliki infrastruktur jalan yang bagus itu hanya di Jawa. Karena itu, ketika ia menyaksikan ratusan kilometer jalan arteri yang mulus di Kalimantan, pandangannya jadi berubah. Tak lagi mengentengkan kondisi di luar Jawa. 

Bahkan, pembangunan jalan non-tol sering menjadi sasaran kritik terhadap Presiden Jokowi. Yang dianggap lebih mementingkan jalan tol berbayar ketimbang panjang pembangunan jalan arteri. Meski berkali-kali disodorkan data panjang jalan yang dibangun, toh kritik seperti itu tak pernah reda.

Mursyid bergabung dalam komunitas Harley yang menamakan diri dengan HDSI. Anggotanya 35 rider. ”Namun, yang aktif ikut kegiatan touring hanya sekitar 15 orang. Sebagai komunitas, kami lebih karena perkawanan. Untuk senang-senang sesama rider,” kata Aseng, rider yang ditunjuk sebagai koordinator komunitas itu.

Aseng yang juga kelahiran Blitar menjelaskan bahwa komunitasnya baru terbentuk pada Desember 2022. Dulu mereka tergabung dalam komunitas Arek Bambu Runcing (ABR). Itu adalah komunitas motor gede dari berbagai merek. Ada moge buatan Jepang, Eropa, dan Amerika Serikat (AS).  

Sebagian besar anggota ABR para rider tua. Sebelum ABR, di Surabaya pernah ada HC Baya alias Harley-Davidson Surabaya. Berdiri pada 1970-an. Anggotanya juga para senior. Karena ingin lebih hidup suasananya dan berkumpul dengan sesama penggemar Harley yang sefrekuensi, dibentuklah HDSI.

”Kami ingin ada suasana baru saja. Sehingga yang khusus Harley membentuk komunitas sendiri ini,” tambahnya. Sebagai komunitas, keanggotaan HDSI lebih fleksibel. Demikian juga dengan pola hubungan antaranggota yang bergabung di dalamnya.

”Kami ini berkumpul untuk seneng-seneng sesuai dengan hobi kita. Karena itu, setiap bertemu atau touring lebih banyak guyonnya. Karena itu, HDSI bisa juga dipelesetkan menjadi Harley-Davidson Soplak Indonesia,” ungkap Supriadi.

Komunitas itu memang unik. Ketika ditanya apa kepanjangan HDSI, jawabannya bermacam-macam. Ada yang menyebut Harley-Davidson Sultan Indonesia, Harley-Davidson Suasana Indonesia, dan Harley-Davidson Seluruh Indonesia. 

Harley Sultan? Ya. Begitulah mereka dengan bercanda menyebutnya. Tapi, ini ada benarnya. Apa pun, pemilik Harley masuk kategori kelas sultan. Sebutan baru untuk orang yang berkecukupan. Sebab, kalau tidak, mereka tidak bisa membeli Harley yang harganya setara mobil.

Menurut Giani Ferianto, Tito Herlambang, dan Villas Robbina, harga baru Harley sekarang Rp 500 juta sampai lebih dari Rp 1 miliar. Ketiganya adalah anggota komunitas yang sering ikut touring bersama anggota lain seperti Budi Lay Santosa dan Steven Awarsa Kusuma.

Setiap melakukan touring, penghobi Harley juga perlu biaya yang tak sedikit. Mulai akomodasi hotel, tiket pesawat, delivery Harley melalui kapal, dan sebagainya. Karena itu, hobi tersebut memerlukan kemampuan ekonomi sultan. Sebab, selain harga motornya mahal, biaya pendukungnya lumayan.

Kenapa tidak bergabung dengan HDCI? Bagi mereka, HDCI itu organisasi formal. Hampir semua anggota HDSI terdaftar sebagai anggota HDCI. Mereka merasa kegiatan HDCI terlalu kaku dan kurang kekeluargaan. Misalnya, kalau motornya rusak di jalan, pasti ditinggal. 

Kategori :

Terkait

Selasa 17-10-2023,17:15 WIB

Harley Sultan