Teacher Ambassador juga bertugas mengontrol durasi bermain, menanamkan sportivitas, serta menjadi penghubung antara sekolah, orang tua, dan penyelenggara.
Hingga 2025, jumlah Teacher Ambassador berkembang pesat. Dari awalnya berjumlah 50, kini menjadi 328 guru di berbagai sekolah.
BACA JUGA:Tim Indonesia Juarai Lomba Minecraft Mr Beast, Bangun Burung Garuda Sampai Komodo
BACA JUGA:5 Misi Battle Pass The Simpsons di Fortnite yang Wajib Kamu Tuntaskan Minggu Ini!
Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya Febrina Kusumawati menegaskan pentingnya keseimbangan antara belajar dan bermain gim.
Dia kembali mengingatkan prinsip utama yang harus dipegang peserta. “Belajar dulu baru mabar (main bareng),” ujarnya.
Febrina menilai kompetisi itu tidak hanya menguji kemampuan bermain. Tetapi juga membentuk disiplin dan kendali emosi siswa. Orang tua dan guru diminta aktif mengawasi penggunaan gawai di rumah.
Sementara itu, Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga Jawa Timur Hadi Wawan Guntoro menyebut esports kini menjadi bagian dari olahraga prestasi.
BACA JUGA:Build Terbaik Cici Mobile Legends: Kombinasi Item dan Emblem untuk Maksimalkan Damage
BACA JUGA:Panduan Build Suyou Mobile Legends Terbaru Makin Sakit Dan Ganas
Maka, pembinaan sejak usia sekolah dinilai sebagai fondasi utama. “Tidak ada atlet yang lahir secara instan. Semuanya harus dibangun dari dunia pendidikan,” ujarnya.
Dari sisi peserta, siswa SMP Negeri 11 Surabaya Muhammad Attaila menilai bermain gim tidak berdampak negatif. Itu jika dilakukan secara wajar. Ia menolak anggapan bahwa gim selalu membuat siswa lalai belajar.
“Menurut saya tidak berpengaruh kalau mainnya tidak berlebihan,” ujar siswa kelas 8 itu. “Game hanya sementara. Sedangkan belajar itu untuk masa depan selamanya,” pungkasnya. (*)
*) Peserta magang Kemenaker RI.