Polisi menduga, Suyitno dibayar Agus untuk perannya itu. Suyitno bukan pembunuh bayaran, melainkan pembantu pembunuh bayaran.
Dari kronologi itu, Agus memang niat (mens rea) membunuh Faradila. Namun, ia tidak berani sendirian. Ia mengajak Suyitno. Tentunya, Suyitno merasa aman karena ia anggap Agus yang polisi aktif bakal membelanya. Begitu kisah pembantu pembunuh bayaran itu.
Dikutip dari The Atlantic, 15 Juli 2019, berjudul Why Do People Hire a Hit Man? karya Rene Chun, diungkapkan tentang pembunuh bayaran.
Para kriminolog menyebut orang yang menyewa pembunuh bayaran: penghasut. Kriminolog mengatakan: banyak penghasut yang tertangkap karena mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan.
Lagi pula, kebanyakan dari kita tidak bergaul dengan pembunuh profesional. Akibatnya, orang menyewa pembunuh bayaran secara serampangan.
Orang awam (yang akan membunuh orang) mencari kenalan atau tetangga untuk mendapatkan rekomendasi. Itu cara pertama.
Cara kedua, merekrut penjahat kelas bawah yang cenderung tidak cakap dan tidak berpengalaman membunuh orang.
Cara pertama gampang ketahuan. Sangat mungkin tetangga atau kenalan yang dimintai tolong mencarikan pembunuh bayaran bakal lapor polisi.
Cara kedua, mungkin si pembunuh bayaran kehilangan keberanian atau malah mengacaukan proses pembunuhan.
Pada 2003, Institut Kriminologi Australia menerbitkan analisis terhadap 163 kasus pembunuhan berencana (beberapa berhasil, yang lain hanya percobaan) di Australia. Studi itu tetap menjadi salah satu studi paling signifikan yang pernah dilakukan mengenai materi tersebut.
Para penulis menyimpulkan bahwa 2 persen dari semua pembunuhan di Australia adalah pembunuhan berencana dan nilai kontrak pembunuh bayaran sangat terjangkau.
Ada kontrak bernilai 500 dolar Australia. Ada juga kontrak bernilai USD2.000.
Di antara temuan penting lainnya, hampir 20 persen dari semua kontrak melibatkan hubungan romantis yang berakhir buruk dan 16 persen dimotivasi oleh faktor finansial.
Park Dietz, psikiater forensik Amerika Serikat (AS) yang telah memberikan kesaksian di pengadilan dalam kasus-kasus kriminal mulai pembunuh berantai (Jeffrey Dahmer) hingga pembunuh bayaran yang gila (John Hinckley Jr), memiliki teori lain mengapa orang-orang yang berniat membunuh menyewa jasa pembunuh bayaran.
Dietz: ”Kecurigaan utama saya adalah penggambaran pembunuh bayaran dalam budaya populer seperti film, Netflix, TV, video game, dan novel.”
Menurut Dietz, hiburan semacam itu memberikan ”ilusi bahwa ini adalah layanan yang tersedia untuk siapa saja”.