Isra Mikraj: Mengungkap Makna dalam Kehidupan Modern Indonesia

Jumat 16-01-2026,16:11 WIB
Oleh: H. Imam Kusnin Ahmad*

DI tengah hiruk-pikuk kehidupan modern Indonesia, peringatan Isra Mikraj setiap tahun selalu menjadi momen yang membawa kedamaian dan refleksi mendalam. Bagi umat Islam, peristiwa yang terjadi pada malam ke-27 bulan Rajab bukan sekadar cerita sejarah, melainkan panggilan untuk memperkuat hubungan dengan Tuhan sekaligus meningkatkan kesadaran akan tanggung jawab sebagai manusia dan warga negara Indonesia.

Isra Mikraj menjadi tonggak penting karena pada saat itu Allah SWT menetapkan kewajiban salat lima waktu –ibadah yang tidak hanya menjadi tiang agama, tetapi juga sebagai panduan hidup yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, diri sendiri, sesama, dan alam sekitar.

SALAT SEBAGAI FONDASI KEHIDUPAN BERAGAMA DAN BERBANGSA

Ketika kita menyebut Isra Mikraj sebagai ”ultah salat lima waktu”, ada makna mendalam di baliknya. Seperti halnya ulang tahun yang membuat kita merenungkan perjalanan hidup dan menetapkan target baru, peringatan Isra Mikraj mengajak kita untuk mengevaluasi kedisiplinan kita dalam menjalankan salat.

BACA JUGA:Isra Mikraj 1447 H, Menag Nasaruddin Umar Ajak Umat Perkuat Kepedulian Sosial dan Lingkungan Lewat Salat

BACA JUGA:Isra Miraj 2026 Libur Nasional dan Long Weekend? Catat Tanggalnya!

Di Indonesia, kita bisa melihat betapa kuatnya semangat beribadah umat Islam. Dari masjid-masjid megah di kota hingga musala sederhana di pelosok desa, masyarakat selalu berkumpul untuk salat berjamaah, terutama pada malam Isra Mikraj. Namun, tantangan kita adalah menjaga semangat itu tetap hidup sepanjang tahun.

Salat tidak hanya memberikan manfaat spiritual, tetapi juga sosial. Ketika kita salat berjamaah, kita belajar untuk hidup berdampingan dengan orang dari berbagai latar belakang –berbeda suku, berbeda profesi, berbeda tingkat ekonomi. Hal itu memperkuat rasa persatuan yang menjadi fondasi bangsa Indonesia yang beraneka ragam.

KESALEHAN EKOLOGIS: MENGAMANKAN KEKAYAAN ALAM INDONESIA

Indonesia adalah negara yang sangat kaya akan sumber daya alam. Kita memiliki hutan tropis terluas kedua di dunia, lebih dari 17.000 pulau dengan keindahan alam yang luar biasa, dan keanekaragaman hayati yang tidak ditemukan di tempat lain di dunia. Namun, potensi besar itu juga menyertai tanggung jawab besar.

Ajaran Islam tentang kesalehan ekologis sangat jelas. Rasulullah SAW bersabda, ”sesungguhnya Allah menyukai hambanya yang baik dalam urusannya dan hemat dalam pekerjaannya.” Pesan itu tecermin dalam ajaran untuk tidak menyia-nyiakan air saat berwudu, bahkan di tempat yang melimpah air.

Di era yang menghadapi perubahan iklim dan kerusakan alam, makna itu makin relevan. Kita bisa melihat dampak kerusakan alam di sekitar kita – kabut asap akibat kebakaran hutan yang menyebar ke berbagai provinsi, sungai-sungai yang tercemar oleh limbah, hingga terumbu karang yang rusak akibat aktivitas manusia yang tidak bertanggung jawab.

Isra Mikraj harus menjadi titik balik bagi kita untuk mengambil tindakan nyata:

Di rumah: hemat penggunaan air dan listrik, kelola sampah dengan benar dengan sistem 3R (reduce, reuse, recycle).

Di lingkungan: ikut program penanaman pohon, jaga kebersihan sungai dan pantai di sekitar kita.

Kategori :