BACA JUGA:Besok, Polrestabes Surabaya Gelar Bazar Ranmor, Cek Bagi yang Pernah Kehilangan
Buktinya, pada 2026, Pemkot Surabaya mengalokasikan Rp191 miliar untuk beasiswa mahasiswa. Universitas PGRI Adi Buana (UAB) Surabaya siap menjadi mitra strategis.
"Kami tidak ingin ada mahasiswa berprestasi yang terhenti karena kendala biaya," tegas Rektor UAB, Dr. Untung Lasiyono.
Kemitraan antara pemerintah dan Universitas menjadi kunci menghadapi bonus demografi dan tuntutan ekonomi digital. Karena di era digital seperti saat ini, SDM unggul sudah menjadi kebutuhan.
SPMB di SMP negeri Kota Surabaya berdasarkan jarak rumah.--Istimewa
Dimensi ketiga, yakni standar hidup layak, mencatat lompatan paling ekstrem. Pengeluaran riil per kapita mencapai Rp20,68 juta per tahun, naik 5,15 persen dari 2024. Angka itu kembali mengungguli Malang yang mencapai Rp18,60 juta dan Sampang di angka Rp10,03 juta.
Kepala Badan Perencanaan Daerah (Bapeda) Kota Surabaya Irvan Wahyudrajad memaparkan capaian indikator makro pembangunan sekaligus arah sinergi Surabaya ke depan. Utamanya, dalam pengembangan ekonomi kreatif dan peran generasi Z.
BACA JUGA:iForte National Dance Competition Surabaya 2026: SMAK St. Louis 1 dan Unesa ke Grand Final
BACA JUGA:Kantor Ormas Madas Disegel Polrestabes Surabaya
Pada 2026, Pemkot Surabaya menetapkan sejumlah target makro pembangunan, antara lain tingkat Kemiskinan 3,48 persen dan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 4,47 persen. Sedangkan IPM ditargetkan mencapai 85,26, indeks gini berada pada rentang 0,348-0,375, dan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,80 persen.
Untuk mencapai target itu, Irvan menuturkan Pemkot Surabaya menyiapkan beberapa strategi utama. Seperti penguatan sinergi SDM dan inkubasi. Perguruan tinggi juga berperan membina kualitas SDM kreatif termasuk Gen Z Surabaya.
"Sementara pemerintah menyediakan ekosistem pendukung berupa pelatihan, inkubasi, pembiayaan, dan infrastruktur ekonomi kreatif," tutur Irvan.
Hal tersebut cerminan pemulihan ekonomi Surabaya yang positif. Bentuknya, pembinaan UMKM, penciptaan lapangan kerja, dan perlindungan sosial yang diperkuat. Kendati demikian, ketimpangan masih mengintai.
Tanpa distribusi yang adil, pertumbuhan bisa jadi hanyi ilusi saja. Kuat di pusat, tapi rapuh di pinggiran.
BACA JUGA:Pemkot Surabaya Pastikan Data Adminduk Aman, Penayangan di Website untuk Verifikasi Domisili
Sejak 2022, IPM Surabaya tumbuh rata-rata 0,81 persen per tahun. Hal itu membuktikan pembangunan kota modern bisa dilihat dari kualitas hidup warganya.