BACA JUGA:Genap Satu Dekade, Pertamina Hulu Indonesia Lampaui Target Produksi Migas 2025
Secara kumulatif, sumur-sumur tersebut menghasilkan tambahan produksi hingga 5.200 bph berdasarkan pengukuran di kepala sumur.
Keberhasilan pengembangan sumur HPPO dan sumur beremulsi ini memperkuat posisi PHM dalam menghadapi tantangan lapangan migas mature melalui inovasi teknologi.
Dengan tambahan produksi tersebut, PHM memasuki 2026 dengan rata-rata produksi minyak mencapai 25 ribu bph, atau sekitar 20 persen lebih tinggi dari target WP&B yang ditetapkan pemerintah.
“Kami meyakini bahwa keberlanjutan operasi dan bisnis merupakan kunci dalam mendukung kebijakan transisi energi Pertamina, sekaligus berkontribusi terhadap pencapaian target produksi nasional sebesar 1 juta barel minyak dan 12 miliar standar kaki kubik gas pada tahun 2029 atau lebih cepat,” tegas Setyo.
BACA JUGA:Pertamina dan Kementerian ESDM Bersinergi Pulihkan Produksi Blok Rokan Pascagangguan Gas
BACA JUGA:Pertamina Tingkatkan Produksi Gas Prabumulih, Pasoka
Ia menambahkan, investasi di sektor hulu migas, baik eksplorasi maupun eksploitasi, tetap menjadi kebutuhan utama untuk menjaga keberlanjutan produksi dan mendukung ketahanan energi nasional, sejalan dengan Asta Cita Pemerintah terkait swasembada energi.
Sebagai informasi, PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) merupakan anak perusahaan PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) yang beroperasi di Zona 8 dan mengelola Wilayah Kerja Mahakam, Kalimantan Timur.
PHM menjalankan operasi hulu migas dengan mengedepankan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) sebagai Kontraktor Kontrak Kerja Sama di bawah pengawasan SKK Migas.
Melalui berbagai inovasi dan penerapan teknologi, PHM terus berupaya menghasilkan energi yang aman, efisien, andal, patuh, dan ramah lingkungan demi mendukung keberlanjutan produksi migas nasional dan mewujudkan Energi Kalimantan untuk Indonesia. (*)