Bentuk karya-karya di pameran itu, terinspirasi dari imajinasi mereka waktu kecil. Generasi 80–90-an tentu ingat Voltron atau Power Rangers.
“Dulu pengen punya, tapi orang tua nggak cukup duitnya. Sekarang ya bikin sendiri,” ujar Henry.
BACA JUGA: Pameran Lukisan Perwajati The Magic of Colours, Representasi Wanita Penuh Warna
BACA JUGA: Pameran Seni The Right to Slow Down di Galeri Tujujati Sadarkan Pentingnya Ambil Jeda
Tak hanya karya tiga dimensi, mereka pun menghadirkan karya 2 dimensi, berupa sketsa dan lukisan dengan medium kanvas.
“Biar nggak monoton. Kita juga mau nunjukin punya skill sketsa dan merakit,” kata Rachmad.
Direktur Wisma Jerman, Mike Neuber, dalam sambutannya mengaku senang dan menyambut baik pameran itu.
Ia memuji barang-barang bekas tidak lagi menjadi limbah yang kotor dan tidak berguna. Tetapi, bisa menjadi karya-karya yang sangat unik.
BACA JUGA: Aksera Gelar Pameran Seni Bertajuk Jam Kos00ng, Gaungkan Kebebasan Senyap
BACA JUGA: Pameran Galasteria 2026 Jadi Ajang Unjuk Karya, Sketsa Manga Chibi Mencuri Perhatian
“Itu tidak lagi menjadi limbah, tetapi menjadi karya seni 3D yang unik dan penuh karakter,” katanya.
Tidak hanya itu, Mike pun memaparkan soal isu lingkungan yang jadi perhatian besar di Negara Jerman. Di tengah persoalan sampah plastik dan limbah rumah tangga, karya-karya itu bisa menjadi inspirasi guna mengatasi persoalan di atas.
FOTO BERSAMA Henry Siswanto dan Rachmad Priyandoko berfoto bersama Direktur Wisma Jerman, Mike Neuber (kanan), usai pembukaan resmi pameran ESCape.-Najwa Rana Iswari-Harian Disway
Respons pengunjung pun positif. Violeth Angela Putri, salah satu siswa Wisma Jerman yang hadir, mengaku terkejut dengan robot besar yang berdiri di depan Ruang Halle.
“Awalnya kaget lihat robot gede banget. Ternyata dari barang bekas. Kreatif banget sih,” katanya.
BACA JUGA: Mengingat Kenangan Lewat Seni, Vinautism Gallery Gelar Pameran Seni Rupa Rumah Ingatan