Imlek, Perkembangan Lintas Zaman dan Lintas Negara

Selasa 17-02-2026,09:00 WIB
Reporter : Guruh Dimas Nugraha
Editor : Guruh Dimas Nugraha

HARIAN DISWAY - Tahun Baru Imlek atau Festival Musim Semi merupakan perayaan tradisional yang berasal dari Tiongkok.

Selalu dirayakan oleh masyarakat Tionghoa di seluruh dunia. Bahkan sejak 2024, Imlek telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO.

Perayaan Imlek menandai awal atau tahun baru kalender lunar. Dirayakan oleh sekitar seperlima populasi dunia. Tradisi tersebut menjadi simbol pembaruan, harapan, dan kemakmuran.

Pada 4 Desember 2024, UNESCO secara resmi memasukkan Imlek dalam Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Umat Manusia. Pengakuan tersebut semakin menegaskan pentingnya Imlek. Yakni sebagai peristiwa budaya global.

BACA JUGA:Pesan Menag di Imlek 2577 Kongzili: Semoga Tahun ini Membawa Kedamaian dan Kesejahteraan

BACA JUGA:Malam Imlek, Masyarakat Tionghoa Menjeda Kesibukan dan Rutinitas untuk Hadir dalam Keluarga


Imlek di Tiongkok turut dirayakan oleh berbagai kalangan. Termasuk para mahasiswa yang melakukan studi di negara tersebut.--chinadaily.com.cn

Secara historis, Imlek berakar pada tradisi agraris kuno. Pada masa awal, perayaan itu berkaitan erat dengan siklus pertanian dan kalender lunar.

Imlek menandai berakhirnya musim dingin. Serta dimulainya musim semi. Musim bercocok tanam. Masyarakat dahulu menggelar persembahan kepada dewa dan leluhur. Demi memohon panen melimpah. Juga keberuntungan sepanjang tahun.

Legenda tentang makhluk mitologi bernama Nian turut membentuk tradisi Imlek. Konon, Nian meneror desa-desa setiap pergantian tahun.

Untuk mengusirnya, masyarakat menggunakan warna merah, bunyi petasan, dan api. Itulah unsur yang hingga kini menjadi ciri khas perayaan Imlek.

BACA JUGA:Hadiah Imlek untuk Inggris-Kanada: Ke Tiongkok Bisa Tanpa Visa

BACA JUGA:Sambut Imlek Tahun Kuda Api di Kelenteng Sam Poo Kong, Konjen Tiongkok Ye Su Bikin Shufa

Seiring perkembangan zaman dan dinasti, Imlek berevolusi menjadi perayaan sosial dan tradisi. Lebih menekankan nilai kekeluargaan serta identitas budaya.

Pada masa Dinasti Ming dan Qing, tradisi membagikan angpao atau uang keberuntungan kepada anak-anak semakin populer.

Kategori :