“Yang saya harapkan dari mantan bos saya adalah pernyataan bahwa tidak ada tempat bagi rasisme,” katanya.
Bukan menyalahkan cara selebrasi. Bukan memutar arah pembahasan. Menurut Mikel, komentar Mourinho ceroboh. Sangat ceroboh.
Ia bahkan mengatakan Mourinho pasti tahu dirinya salah. “Dia tahu dia mengacau,” katanya.
Kalimat itu keras. Tapi jujur. Situasi ini membuat leg kedua babak 16 besar di markas Real Madrid terasa lebih panas dari biasanya.
Prestianni absen karena sanksi. Mourinho dalam sorotan.
Vinicius tentu tak akan lupa. Sepak bola memang 90 menit. Tapi isu rasisme tidak pernah selesai hanya dengan peluit akhir. (*)