HARIAN DISWAY - Pelatih anyar Tottenham Hotspur, Igor Tudor, mengakui bahwa tugasnya kali ini bisa menjadi pekerjaan penyelamatan terbesar sepanjang kariernya.
Spurs saat ini terpuruk di peringkat ke-16 Premier League, hanya terpaut empat poin dari zona degradasi dengan 11 pertandingan tersisa. Situasi itu yang kemudian berujung pada pemecatan Thomas Frank dan penunjukan Tudor hingga akhir musim.
Namun, awal kiprah Tudor tidak berjalan mulus. Tottenham kalah 1-4 dari rival sekota, Arsenal, dalam laga perdananya.
Hasil tersebut membuat Spurs belum meraih satu pun kemenangan liga sepanjang 2026, dengan catatan sembilan pertandingan tanpa kemenangan (empat imbang, lima kalah).
BACA JUGA:Tottenham Dihajar Arsenal, Igor Tudor Semprot Mental Pemain
BACA JUGA:Tottenham vs Arsenal 1-4, Eze-Gyokeres Kembalikan The Gunners ke Jalur Kemenangan
Igor Tudor marah dan semprot mentalitas pemain usai debutnya di Tottenham berakhir kalah 1-4 dari Arsenal, membuat Spurs kini terpuruk di posisi ke-16 klasemen.--Getty Images
Sepanjang sejarah Premier League, Tottenham baru sekali mengalami 10 laga beruntun tanpa kemenangan, yakni pada 1994 di bawah asuhan Osvaldo Ardiles. Meski demikian, peluang Spurs terdegradasi menurut superkomputer Opta masih relatif kecil, yakni 4,6 persen.
Tudor sendiri memiliki reputasi mampu memberi dampak cepat di klub-klub sebelumnya seperti Lazio dan Juventus. Akan tetapi, ia menyadari bahwa tantangan di Tottenham memiliki skala berbeda.
“Jika melihat kesulitannya, mungkin ini yang terbesar,” ujarnya. Alih-alih tertekan, Tudor justru menganggap situasi tersebut sebagai motivasi tambahan untuk membalikkan keadaan.
BACA JUGA:Tottenham Pecat Thomas Frank Usai Rentetan Hasil Buruk Premier League
BACA JUGA:Kalah dari Man United, Tottenham Disebut Rooney Dekat Zona Degradasi
Fokus Hasil di Tengah Jadwal Padat dan Krisis Pemain
Dalam derby London Utara, Tudor mencoba formasi 3-5-2. Namun statistik menunjukkan Spurs hanya meraih satu kemenangan dalam 10 laga terakhir Premier League saat bermain dengan tiga bek, dan tak pernah menang dalam enam laga terakhir dengan skema tersebut.
Meski demikian, Tudor menegaskan bahwa saat ini prioritas utamanya adalah hasil, bukan gaya bermain. Menurutnya, waktu yang tersedia terlalu sempit untuk memikirkan performa ideal atau identitas permainan.
Setiap pertandingan harus dipersiapkan dengan satu tujuan utama: meraih poin dengan cara apa pun. Ia mengakui bahwa sebagai pelatih, ia tetap peduli pada gaya dan kualitas permainan, tetapi dalam situasi darurat seperti ini, pendekatan pragmatis menjadi keharusan.