Surabaya Melting Borders: Membayangkan Kepadatan dan Masa Depan Kota Raya

Jumat 27-02-2026,16:38 WIB
Oleh: Annisa B. Tribhuwaneswari*

DISKUSI Surabaya Megacity: A Melting Borders pada 2025 berangkat dari kegelisahan kolektif atas persoalan perkotaan yang terasa berulang dan seolah tak bergerak maju. Meskipun, laju pertumbuhan kota-kota di Indonesia makin masif. 

Kawasan Gerbangkertosusila berkembang pesat, tetapi Surabaya sebagai pusatnya masih berkutat pada masalah klasik: kemacetan, banjir, dan kepadatan yang kerap diposisikan sebagai beban, bukan sebagai potensi. 

Melalui forum itu, para peserta diajak membaca ulang relasi antara sprawling (pelebaran kota ke pinggiran) dan density (kepadatan) serta dampaknya terhadap wajah Surabaya hari ini dan arah perkembangannya ke depan.

Dalam diskusi tersebut, Marco Kusumawijaya menantang cara pandang umum terhadap kepadatan. Alih-alih dianggap sebagai sesuatu yang harus dihindari, kepadatan justru diposisikan sebagai realitas kota yang perlu diterima dan dikelola dengan cermat. 

BACA JUGA:Surabaya Bukan Dubai: Obsesi Langit dan Lupa Tanah

BACA JUGA:Ujian Surabaya sebagai Kota Moderasi: Simbol Keberagaman

Sejarah menunjukkan bahwa banyak kota besar dunia tumbuh dan bertahan justru karena kepadatannya. Paris pada abad ke-19 serta Berlin dan New York pada abad ke-20 memperlihatkan bagaimana interaksi manusia yang intens melahirkan keragaman ekonomi, kreativitas, dan daya tahan sosial. 

Tantangan Surabaya, karenanya, bukan sekadar menjadi kota yang makin besar, melainkan kota yang mampu memadat secara sehat, alih-alih terus melebar tanpa arah.

Refleksi itu kemudian mengarah pada makna ”kota raya”. Raya tidak semata-mata berarti luas atau megah secara fisik, tetapi juga ramai, utama, dan hidup. Jalan raya, dalam pengertian ini, seharusnya menjadi ruang pertemuan sosial, bukan hanya koridor kendaraan. 

BACA JUGA:Meraba Wajah Prostitusi di Surabaya Saat Ini

BACA JUGA:Padel, Olahraga Sosial Baru Masyarakat Surabaya

Namun, banyak ruang kota justru kehilangan fungsi rayanya –besar, rapi, tetapi steril dari kehidupan. Surabaya dihadapkan pada pilihan mendasar: apakah ingin membangun kota yang hidup dengan memberikan ruang bagi ekonomi informal, seni jalanan, dan interaksi sosial, atau terus memproduksi ruang yang tertib tetapi sunyi.

Kelompok belajar kota raya hadir sebagai narasi tandingan atas anggapan bahwa kepadatan identik dengan kekumuhan. Padat tidak selalu berarti kumuh. Persoalan utamanya terletak pada kesenjangan dalam kepadatan itu sendiri. 

Ada wilayah yang sarat fasilitas dan tumbuh vertikal, sementara wilayah lain terpinggirkan dan terputus dari sistem kota. Ketika kota terus melebar tanpa strategi pemadatan, yang muncul justru fragmentasi –lingkungan-lingkungan yang berdiri sendiri dan kehilangan keterhubungan, membentuk gejala anti-kota. 

Dalam kondisi seperti itu, transportasi publik pun sulit berfungsi optimal karena mobilitas massal membutuhkan konsentrasi aktivitas dan manusia.

Kategori :