Namun, secara moral dan historis, Indonesia adalah negara yang sangat dihormati dan disegani negara-negara Islam di Timur Tengah, termasuk Palestina dan Iran.
Posisi terhormat itu diraih karena Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia dari awal menunjukkan sikap yang tegas: mendukung tercapainya kemerdekaan dan kedaulatan negara Palestina.
Sikap Indonesia berdiri di sisi Palestina bukan semata-mata karena solidaritas sebagai sesama negara Islam. Namun, konstitusi Republik Indonesia jelas menyatakan bahwa ”kemerdekaan adalah hak segala bangsa.
Karena itu, penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan.”
Selama Palestina belum merdeka dan genosida terhadap rakyat Palestina dipertontonkan israel di depan mata, tidak ada alasan bagi pemerintah Indonesia untuk membuka pintu, meski sedikit, untuk mengakui dan membuka hubungan diplomatik dengan israel.
Sebagai penggagas KTT Non-Blok, tidak sepantasnya Indonesia mengambil sikap ”netral” dalam konteks konflik antara Palestina dan israel. Rasa hormat negara-negara Islam dan negara berkembang kepada Indonesia bisa runtuh jika pemerintah mencoba mengubah haluan dengan menjadi anak baik bagi israel dan AS.
Tidak seharusnya ada dialog apa pun dengan israel, meski melalui perantara AS, jika Palestina –baik Tepi Barat maupun Jalur Gaza– belum sepenuhnya merdeka.
Saat ini negara-negara Islam menghadapi musuh yang sulit. Dua pemimpin fasis yang haus darah dan kekuasaan: donald trump dan benjamin netanyahu.
Hati seluruh rakyat Indonesia akan selalu bersama rakyat Palestina. Karena itu, pemerintah Indonesia sebagai pelaksana mandat rakyat jangan keliru dalam mengambil sikap. Apa yang dilakukan Iran kepada israel adalah sebuah ikhtiar dan perjuangan untuk melawan imperialisme dan mempercepat terwujudnya kemerdekaan Palestina.
Karena itu, negara mana pun yang berani melawan israel harus kita dukung. Tidak peduli negara itu komunis atau sekuler, apalagi kalau negara pemberani itu adalah negara Islam, tidak peduli Sunni atau Syiah. Wallahua’lam. (*)
*) Tofan Mahdi adalah pengamat ekonomi politik internasional. Alumnus magister hubungan internasional, Universitas Paramadina.