SETIAP Ramadan, jutaan muslim berpuasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Secara teologis, tujuan puasa ditegaskan dalam Al-Qur’an: ”la‘allakum tattaqūn”, agar kamu bertakwa (Q.S. Al-Baqarah: 183).
Namun, menariknya, di balik tujuan spiritual itu, sains modern menemukan bahwa puasa juga menyentuh aspek biologis yang sangat konkret, termasuk kesehatan otak. Dalam tradisi Islam, puasa tidak sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga mengendalikan lisan, emosi, dan dorongan impulsif.
Dari sudut pandang neurosains, itu sangat relevan dengan fungsi korteks prefrontal, bagian otak yang berperan dalam pengendalian diri (self-control), pengambilan keputusan, dan regulasi emosi.
Setiap kali seseorang menahan dorongan untuk makan, marah, atau berkata kasar, sebenarnya ia sedang ”melatih” jalur saraf pengendalian diri. Puasa menjadi latihan neuropsikologis yang terstruktur selama satu bulan penuh.
BACA JUGA:6 Panduan Aman Puasa bagi Penderita Anemia agar Tidak Mudah Lemas
BACA JUGA:Di Balik Buka Puasa Istana, Prabowo Ajak Ulama dan Pimpinan Ormas Islam Bahas Isu Global
Islam juga mengenal konsep keseimbangan (wasathiyah), proporsional, dan tidak berlebihan. Nabi Muhammad SAW bersabda agar manusia tidak memenuhi perutnya secara berlebihan dan menganjurkan pola makan secukupnya.
Prinsip itu kini sejalan dengan temuan ilmiah tentang dampak konsumsi berlebih terhadap obesitas, diabetes, dan sindrom metabolis, yang bisa berkaitan dengan penurunan fungsi kognitif dan peningkatan risiko demensia di usia lanjut.
Secara biologis, saat seseorang berpuasa selama beberapa jam, tubuh beralih dari penggunaan glukosa ke produksi keton bodies sebagai sumber energi. Keton bodies seperti beta-hydroxybutyrate bukan hanya bahan bakar alternatif, melainkan juga molekul sinyal yang mengaktifkan mekanisme perlindungan sel saraf.
BACA JUGA:Ajak Anak-Anak Berbuka Puasa, Ajarkan 4 Kata Ajaib dan Pembiasaan 5S
BACA JUGA:5 Aplikasi Kalkulator Nutrisi Sahur 2026: Pantau Hidrasi & Pelepasan Energi agar Puasa Optimal
Ulasan besar dalam New England Journal of Medicine oleh de Cabo dan Mattson (2019) menjelaskan bahwa pola intermittent fasting memicu respons adaptif seluler yang meningkatkan ketahanan sel tubuh terhadap stres oksidatif dan inflamasi, dua faktor penting dalam penuaan otak.
Puasa juga dikaitkan dengan peningkatan brain-derived neurotrophic factor (BDNF), protein yang membantu pertumbuhan dan kekuatan koneksi antarsel saraf. BDNF berperan dalam proses belajar dan memori.
Dalam bahasa sederhana, puasa memberikan ”tantangan ringan” kepada tubuh dan tantangan itu justru membuat sistem biologis, termasuk otak, menjadi lebih tangguh. Selain itu, ada proses yang disebut autofagi, yaitu mekanisme pembersihan sel dari komponen yang rusak.
BACA JUGA:7 Ide Menu Sahur Rendah Glikemik, Tidak Cepat Lapar saat Puasa Ramadan