Istri Muda Bunuh Suami di Tigaraksa, Tangerang: Nikah Lagi dan Lagi

Senin 09-03-2026,09:33 WIB
Oleh: Djono W. Oesman

Mengapa pernikahan berakhir? Dijelaskan Romanelli, karena semua manusia berubah seiring waktu. Tubuh, minat, prioritas, hasrat seksual, bergeser seiring waktu. Hampir setiap sel dalam tubuh kita memperbarui diri sendiri. Jadi, mengapa kita mengharapkan pernikahan kita tetap sama dengan pada awalnya?

Sebenarnya, kedua pasangan tidak pernah berhenti berevolusi. Hanya masalah waktu, sampai hubungan mulai retak. Apa yang dahulu terasa indah dan alami berubah menjadi terasa membatasi, ketinggalan zaman, atau membosankan, hambar, dan ingin bercerai.

Pada tahap itu, sebagian besar pasangan akan diam-diam menyerah dan menjalani rutinitas yang sama. Bertahan tidak cerai. Atau, mereka berpisah dan memulai lagi dengan orang baru.

Maka, menikah lagi dengan orang yang sama memungkinkan Anda menikmati kekayaan, kedalaman, dan sejarah bersama dari hubungan jangka panjang sambil menemukan kembali kegembiraan dan vitalitas cinta baru. 

Itu menggemakan ajaran David Schnarch bahwa pernikahan (atau hubungan jangka panjang apa pun) adalah mekanisme pertumbuhan manusia, sistem hidup yang menantang kita untuk berevolusi, berkembang, dan memenuhi potensi kita.

Jika begitu berharga, mengapa pasangan tidak menikah lagi secara alami? Sebab, sebagian besar dari kita tidak pernah melihat orang tua kita melakukannya. Hubungan mereka sering kali hanya latar belakang yang tenang atau penjara emosional. 

Romanelli: ”Model pernikahan ulang membantu saya dan istri menegosiasikan ulang dan menciptakan kembali pernikahan kami berkali-kali selama 15 tahun terakhir. Sekarang kami berada dalam pernikahan keenam. Kami menerapkan model ini kepada pasangan lain di klinik kami dan mengajarkannya dalam lokakarya.”

Caranya ada empat tahap. 

Pertama, bermain. Sifat suka bermain adalah pola pikir yang penuh rasa ingin tahu, fleksibilitas, dan kemauan untuk membuat kesalahan. Itu kemampuan menjelajah, bergerak, dan tertawa bersama. Tujuannya adalah melepaskan kendali dan menemukan kembali keringanan yang pertama menarik Anda bersama, dulu. 

Bermain adalah pelumas hubungan; mencegah hal-hal menjadi buntu dan menjaga energi tetap mengalir di antara Anda berdua.

Kedua, terima sisi gelapmu. Setiap hubungan memiliki sisi gelap, bagian dari diri kita yang kita ingkari, sembunyikan, atau proyeksikan kepada pasangan kita: berupa kecemburuan, kemarahan, ketergantungan, nafsu, keserakahan, kesombongan. 

Ketika kita menerima bagian-bagian itu, kita berhenti menyalahkan pasangan kita atas apa yang sebenarnya harus kita hadapi. Kualitas-kualitas yang kita coba tekan sering kali memegang kunci vitalitas kita.

Ketiga, biarkanlah semuanya meresap. Ini tentang mendengarkan tidak hanya dengan telinga, tetapi dengan seluruh tubuh. Anda membiarkan kata-kata pasangan Anda meresap. Anda membiarkan kata-kata itu menggerakkan Anda. 

Itulah cara Anda menunjukkan bahwa pertumbuhan lebih penting daripada ego. Ketika membiarkan sesuatu meresap, Anda mengubah mendengarkan menjadi bentuk cinta.

Keempat, katakanlah apa adanya. Berbicara secara langsung memang berisiko karena mengundang kejujuran. Kejujuran bisa terasa tidak nyaman. Namun, itulah satu-satunya jalan menuju keintiman.

Kebanyakan pasangan bertele-tele, meninggalkan jejak asumsi, dugaan-dugaan, kebencian, dan kebutuhan yang tak terucapkan. Mengatakan apa yang sebenarnya, misalnya: ”Aku merindukanmu”. Atau, ”aku terluka”. Atau, ”aku menginginkanmu”.

Kategori :