Harga Minyak Tembus 100 Dolar per Barel, Konflik Timur Tengah Picu Lonjakan Harga

Senin 09-03-2026,14:41 WIB
Reporter : Fiella Widya Rahma Aprillia
Editor : Taufiqur Rahman

HARIAN DISWAY - Harga minyak melonjak hingga lebih dari 100 USD per barel pada Senin, 9 Maret 2026 akibat dari perang Israel dan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran.

Harga minyak dunia telah mengalami tren kenaikan sejak sepekan terakhir dipicu eskalasi konflik di Timur Tengah. Utamanya karena Iran memblokade Selat Hormuz yang menjadi jalur transit bagi 20-an persen minyak dan gas alam cair (LNG) dunia. 

Belum lagi kedua belah pihak dilaporkan menyasar infrastruktur energi dan bahan bakar minyak (BBM) di Timur Tengah dengan serangan bom, drone, dan rudal. 

Pada 9 Maret 2026 siang, West Texas Intermediate (WTI) crude oil berfluktuasi antara USD101 hingga 102 per barel. Sementara Brent bisa mencapai USD105 per barel berdasarkan laman Trading Economics.   

Gangguan besar terhadap pasokan energi di kawasan ini akan mengancam kenaikan harga bagi konsumen dan bisnis di seluruh dunia.

Minyak mentah Brent sebagai patokan internasional, sempat naik lebih dari 20 persen pada hari Minggu, 8 Maret 2026 bahkan sempat mencapai lebih dari 114 USD per barel.

BACA JUGA:Iran Serang Fasilitas Pemurnian Air Minum Bahrain, Pembalasan atas Qeshm

BACA JUGA:Fasilitas Energi Jadi Target, Ini Daftar Kilang dan Depot Minyak yang Diserang dalam Konflik Iran-AS-Israel

Pada Senin pagi di Asia, harga minyak mentah Nymex light sweet naik lebih dari 26% menjadi 144,78 USD, sementara harga minyak mentah Brent naik hampir 24% menjadi 144,74 USD.


Lebih dari 10 kapal tanker diserang oleh Iran karena dianggap mengabaikan larangan melintas di Selat Hormuz-Mehr News Agency-

Hingga Senin pagi, tepatnya pada 02:30 GMT indeks acuan berada di sekitar 107,50 USD. Lonjakan tersebut menandai pertama kalinya harga minyak berada di atas USD100 per barel sejak invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022, dilansir dari laman Al Jazeera.

Tak lama setelah kenaikan harga minyak mencapai lebih dari USD100 per barel ini, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuliskan sebuah unggahan di Truth Social yang menyatakan bahwa harga minyak jangka pendek adalah harga yang sangat kecil untuk dibayar setelah ancaman nuklir Iran diatasi.

“Hanya orang bodoh yang berpikir sebaliknya!” tambah Trump dalam unggahannya.

BACA JUGA:Iran Umumkan Total 5 Titik Infrastruktur BBM Iran Dibom AS

BACA JUGA:Pengamat: Perang AS–Israel vs Iran Masuk Tahap Perang Hibrida

Negara-negara Teluk Arab mengurangi produksi karena kehabisan ruangan penyimpanan, sebab barel minyak menumpuk tanpa tempat tujuan akibat penutupan Selat Hormuz, dilansir dari laman CNBC.

Lebih lanjut, kapal tanker enggan melintasi jalur air tersebut karena khawatir akan serangan di tengah kecamuk perang, yang pada awalnya sekitar 20% konsumsi minyak dunia diekspor melalui selat tersebut.(*)

*) Peserta Magang dari Universitas Negeri Surabaya

Kategori :