HARIAN DISWAY - Banyak masyarakat menyambut malam ganjil di 10 hari terakhir Ramadan. Anda sudah tahu, tradisi itu disebut Maleman.
Dilakukan untuk menghidupkan malam Lailatul Qadar. Sekaligus mempererat kebersamaan. Tradisi Maleman pun tetap hidup hingga sekarang.
Maleman tidak hanya soal ibadah. Di dalamnya ada unsur budaya, sosial, dan nilai kekeluargaan yang kuat. Dari kenduri hingga doa bersama, semua dilakukan dengan sederhana tapi penuh makna.
Di berbagai daerah seperti Jawa dan Lombok, tradisi itu masih hidup. Meski bentuknya berbeda, tujuannya tetap sama. Yakni mendekatkan diri kepada Tuhan dan mempererat hubungan antarwarga.
BACA JUGA:10 Hari Terakhir Ramadan, Keutamaan dan Amalan untuk Meraih Malam Lailatul Qadar
Asal-usul Tradisi Maleman di Nusantara
Tradisi Maleman diyakini sudah ada sejak lama dan berkembang di masyarakat Jawa. Meski tidak ada catatan pasti kapan dimulai, tradisi itu erat kaitannya dengan penyebaran Islam di tanah Jawa.
Sebagian sumber menyebut Maleman muncul sebagai cara dakwah yang menyesuaikan budaya lokal. Tradisi ini kemudian diwariskan turun-temurun hingga menjadi bagian dari Ramadan di banyak daerah.
Dilaksanakan di Malam Ganjil 10 Hari Terakhir
Maleman biasanya digelar pada malam ganjil. Seperti tanggal 21, 23, 25, 27, dan 29 Ramadan. Waktu tersebut dipercaya sebagai momen turunnya Lailatul Qadar yang penuh keberkahan.
Karena itu, masyarakat memanfaatkan malam tersebut untuk memperbanyak ibadah. Tradisi itu menjadi cara kolektif untuk menghidupkan malam-malam istimewa di akhir Ramadan.
Kegiatan Sosial: Kenduri, Doa, dan Makan Bersama
Warga menggelar makan bersama dalam tradisi Maleman sebagai wujud kebersamaan di malam Ramadan.--Pinterest
BACA JUGA:10 Cara Beribadah Khusyuk di Malam Lailatul Qadar
BACA JUGA:Tanda-Tanda Malam Lailatul Qadar Menurut Al Quran dan Hadis
Dalam praktiknya, Maleman identik dengan kenduri atau selamatan. Warga berkumpul, membaca doa, tahlil, lalu makan bersama sebelum pulang membawa berkat.
Selain itu, ada juga kegiatan seperti zikir, salat berjamaah, hingga menyalakan obor tradisional di beberapa daerah. Semua dilakukan dengan suasana hangat dan kebersamaan.