Deep Fasting: Puasa yang Melampaui Lapar dan Dahaga

Rabu 18-03-2026,13:20 WIB
Oleh: Moch. Abduh*

DALAM teori pendidikan modern, menurut Biggs & Tang (2011) dalam bukunya, Teaching for Quality Learning at University, dikenal dua pendekatan pembelajaran. Yaitu, surface learning dan deep learning. Surface Learning diartikan sebagai pembelajaran yang bersifat dangkal, sekadar hafalan dan formalitas. 

Sebaliknya, deep learning menekankan pembelajaran yang berorientasi pada pemahaman mendalam dan refleksi kritis yang mengaitkan pengetahuan menjadi perilaku nyata. 

Pada konteks pendidikan di Indonesia, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mengembangkan deep learning sebagai pendekatan pembelajaran yang bertujuan untuk mendorong pengembangan keterampilan berpikir tingkat tinggi atau high order thinking skills (HOTS), penerapan pengetahuan dalam konteks dunia nyata, serta pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. 

Paradigma deep learning itu sangat relevan dengan konteks puasa Ramadan yang bukan sekadar momentum ritual menahan lapar dan dahaga. Ramadan merupakan madrasah spiritual yang dirancang untuk membentuk manusia yang lebih sadar, lebih sabar, dan lebih bertakwa.

BACA JUGA:Puasa dan Kesehatan Otak

 BACA JUGA:Berpuasa Menahan Diri dari Maksiat Kekuasaan

Sayangnya, dalam impelementasinya, masih banyak yang menjalankan puasa hanya pada level formalitas dan sekadar menggugurkan kewajiban. 

Dalam perspektif reflektif, puasa Ramadan dapat dimaknai sebagai deep fasting, sebuah proses pendalaman spiritual yang sejalan dengan konsep deep learning dalam dunia pembelajaran. 

Jika deep learning menekankan pemahaman mendalam, refleksi, dan transformasi pengetahuan tentang pendidikan, deep fasting dapat dipahami sebagai proses menjalani puasa dengan kesadaran penuh sehingga menghasilkan perubahan perilaku dan karakter yang nyata.

Sebagai ibadah rutin tahunan, puasa Ramadan sering kali dipahami oleh sebagian besar masyarakat hanya sebagai ritual tahunan berorientasi waktu yang dimulai dari sahur, menahan lapar, dan akhirnya berbuka. 

BACA JUGA:Tetap Produktif Berkarya Selama Puasa Ramadan

BACA JUGA:Mengajari Anak Untuk Berpuasa Tanpa Paksaan

Puasa Ramadan bukan sekadar kepatuhan pada ibadah berbasis waktu tersebut, melainkan juga sebuah proses pendidikan spiritual yang sistematis dan laboratorium transformasi diri. 

Dalam bahasa kontemporer, proses itu dikenal sebagai pembentukan higher-order spiritual skills (HOSS), bentuk keterampilan spiritual tingkat tinggi yang mendorong manusia menjadi pribadi matang, sadar, dan berorientasi transendental. 

Konsep itulah yang disebut sebagai deep fasting, praktik puasa yang dijalani secara sadar, reflektif, dan transformatif.

Kategori :