Beberapa faktor juga dapat memperparah risiko microsleep. Di antaranya adalah mengonsumsi obat yang menyebabkan kantuk, alkohol, atau kurangnya asupan cairan.
Pengemudi disarankan menghindari zat-zat tersebut sebelum dan selama perjalanan. Selain itu, pengemudi juga harus bisa menjaga suasana kendaraan tetap nyaman.
Seperti, membuka ventilasi udara, mendengarkan musik, atau berbincang dengan penumpang dapat membantu menjaga kewaspadaan.
BACA JUGA:Deep Sleep sebelum Mudik Motor Jarak Jauh: Berapa Jam agar Tidak Lelah di Perjalanan?
BACA JUGA:Sleep Revenge setelah Tarawih, Dampak Kurang Istirahat dan Risiko Gangguan Kesehatan saat Ramadan
Pengemudi juga perlu mengenali tanda awal microsleep, seperti sering menguap, mata sulit terbuka, kehilangan fokus, atau tidak mengingat beberapa detik terakhir perjalanan.
Jika tanda ini muncul, segera menepi dan beristirahat.
Keselamatan Prioritas Utama
Microsleep bukan sekadar rasa kantuk biasa. Kondisi ini berbahaya dab dapat mengancam keselamatan diri sendiri maupun pengguna jalan lain.
Dengan persiapan matang, istirahat cukup, dan kesadaran akan kondisi tubuh, risiko microsleep dapat diminimalkan.
BACA JUGA:Mengenal Konsep Sleep Care untuk Tubuh dan Pikiran yang Lebih Segar
BACA JUGA:Sleep Hygiene untuk Insomnia, Bisa Bikin Lelap Seketika
Pengemudi diimbau untuk tidak memaksakan perjalanan demi mengejar waktu. Karena keselamatan tetap menjadi prioritas utama di jalan raya. (*)
*) Mahasiswa magang dari Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, UINSA.