Perang Iran dan Kompleksitas Geopolitik di Timur Tengah

Jumat 20-03-2026,04:33 WIB
Reporter : Tofan Mahdi*
Editor : Yusuf Ridho

Wilayah Tepi Barat praktis dalam kontrol dan kendali israel dan Jalur Gaza luluh lantak karena gempuran israel tahun lalu. 

Jutaan rakyat Palestina telah meninggalkan tanah mereka, menjadi pengungsi, dan mencari suaka politik di berbagai negara. Yang masih tinggal di Yerusalem, Tepi Barat, dan Jalur Gaza kian menderita karena israel tak pernah berhenti mempersekusi dan membunuh rakyat Palestina dengan dalih apa pun. 

Saat ini Palestina tidak layak disebut sebagai sebuah negara. Tidak memiliki angkatan perang, tidak punya sistem  pertahanan dan persenjataan, tidak ada bandara sipil maupun militer, serta warganya tidak memiliki akses berpergian ke mana saja tanpa melalui akses dan persetujuan dari tentara zionis israel. 

Bahkan, umat Islam Palestina kesulitan untuk melaksanakan ibadah haji dan umrah ke Tanah Suci Makkah. Bahkan, akses ke Masjid Al Aqsa pun dibatasi hanya untuk warga Palestina di Yerusalem dan harus melewati pemeriksaan tentara israel. Saat ini, menjelang akhir bulan Ramadan 1447 H, israel menutup total akses ke Masjid Al Aqsa.

Penderitaan warga Palestina tak hanya secara fisik, tetapi juga mental dan administrasi kependudukan. Warga Palestina, khususnya di Yerusalem dan Tepi Barat, seperti hidup di dalam ghetto (tembok pemisah), seperti warga Yahudi di zaman Nazi. Mereka stateless. Tidak diakui sebagai warga negara israel, tetapi juga bukan warga Palestina. 

Mereka hanya memiliki ID berbahasa Ibrani sebagai warga Yerusalem yang dikeluarkan kantor wali kota setempat. 

Tidak ada kata lain yang tepat untuk menggambarkan kehidupan rakyat Palestina kecuali mereka adalah rakyat yang dijajah negeri zionis israel. Perlawanan terhadap imperialisme israel itu juga makin lemah. 

Organisasi Pembebasan Rakyat Palestina (PLO) yang didirikan Yasser Arafat kini tinggal sejarah. Rakyat Palestina kini hanya bisa berharap dukungan nyata dari negara-negara Islam agar penjajahan israel segera dihentikan dan Palestina benar-benar menjadi negara merdeka. 

Sayangnya, merespons israel yang jelas-jelas menjajah Palestina, sikap negara-negara Islam terbelah. Padahal, ini bukan tentang apa pun kecuali tentang kemanusiaan dan penjajahan yang harus dihapuskan dari seluruh sudut dunia.

SEANDAINYA IRAN KALAH PERANG

Jika Iran kalah dalam perang melawan israel dan amerika saat ini, misalnya, dinasti Reza Pahlevi kembali berkuasa, habis sudah supremasi peradaban Islam. Timur Tengah secara ekonomi dan politik praktis dikuasai amerika dan cita-cita kelompok zionis untuk membangun israel raya makin menjadi nyata. 

Mungkin tak ada lagi perang besar di Timur Tengah, situasi geopolitik menjadi stabil, tetapi amerika dan israel kian merajalela dan mudah melakukan apa pun untuk mencapai tujuannya. 

Warga muslim hanya akan menjadi objek dan pasar, pun Islam kemudian hanya menjadi agama ritual, tetapi tidak lagi menjadi sebuah semangat spiritual untuk membangun sebuah peradaban. 

Apakah yang akan terjadi ke depan? Wallahua’lam

Keberanian Iran dalam membalas serangan israel dan amerika adalah tindakan yang dilindungi oleh hukum internasional. Dengan segala keterbatasan karena embargo amerika sejak 1979, Iran masih mampu membalas dan memberikan perlawanan yang setimpal melawan dua negara dengan teknologi militer paling canggih di dunia. 

Kemenangan Iran akan menjadi titik balik perubahan peta geopolitik di Timur Tengah dan dunia. Hegemoni amerika akan runtuh dan Iran akan menjadi pemain utama baru dalam peta geopolitik dunia. 

Kategori :