BACA JUGA:Sejarah! Veda Ega Pratama Jadi Pembalap Indonesia Perdana yang Naik Podium Moto3
Untuk mengatasi hal tersebut, para insinyur Michelin menghadirkan inovasi berupa “alur mikro” yang diukir secara Artificial pada permukaan ban. Teknologi ini bertujuan meningkatkan traksi dan performa, meskipun berisiko mempercepat keausan.
"Kunci dari Austin adalah keseluruhan permukaan lintasannya. Sirkuit ini memiliki beberapa jenis aspal dengan tingkat cengkeraman dan kekasaran berbeda. Area yang diberi perlakuan khusus untuk meningkatkan grip juga secara signifikan mempercepat ban keausan," jelas Taramasso.
Selain itu, suhu lintasan di Austin sering menjadi faktor penentu. Suhu aspal dapat mencapai sekitar 50°C, yang semakin meningkatkan tekanan termal dan mekanis pada ban.
"Suhu lintasan yang sering menyentuh 50°C menjadi tantangan tambahan. Dalam kondisi seperti ini, manajemen ban akan sangat krusial sepanjang akhir pekan balapan, baik pada Tissot Sprint maupun balapan utama. Kami yakin alokasi ban kami akan memungkinkan para mitra memaksimalkan potensi mereka," Ujar Taramasso.
Seperti pada setiap Grand Prix, Michelin juga akan menyediakan ban MICHELIN Power Rain untuk kondisi basah. Pilihannya tetap sama, yakni Soft dan Medium dengan pola simetris di depan, serta Soft dan Medium dengan pola asimetris di belakang, dengan sisi kanan lebih keras.
Sebagai catatan, Marco Bezzecchi bersama Aprilia RS-GP telah dua kali mengalahkan Ducati Desmosedici GP26 dalam balapan utama, yakni di GP Thailand dan GP Brasil, yang keduanya berlangsung di lintasan kering.
Pertanyaannya, mampukah Marc Marquez, yang dikenal dengan julukan “Sheriff of Austin”, kembali mendominasi, atau justru akan kembali ditaklukkan oleh Marco Bezzecchi?(*)