Perampokan-Pembunuhan di Rumah Dokter di Aceh: Pelaku Serampangan

Sabtu 28-03-2026,09:33 WIB
Oleh: Djono W. Oesman

Prof Nee: ”Di masa lalu orang menganggap pelaku kejahatan sebagai orang yang impulsif, sembarangan, dan oportunis. Orang tidak menganggap pelaku kejahatan pintar karena biasanya mereka tidak berpendidikan tinggi.”

”Itu tidak benar,” tandasnyi.

Nee memulai penelitiannyi di penjara, tempat dia mewawancarai narapidana. Jangan dikira, penjahat bakal ogah diwawancarai dalam suatu riset. Pengalaman Nee membuktikan, narapidana mau diwawancarai.

Nee: ”Sering kali mereka (napi) sangat bosan. Jadi, yang Anda temukan adalah mereka sangat senang bahwa ada seseorang tertarik pada apa yang mereka lakukan.”

Selain wawancara, dia melakukan eksperimen. Nee mengundang sekelompok mahasiswa (sebagai pengamat) dan narapidana yang pernah melakukan pencurian (sebagai pelaku eksperimen) ke sebuah rumah yang sudah disiapkan untuk dirampok. 

Para perampok masuk satu demi satu. Bergiliran, setelah pelaku eksperimen terdahulu keluar rumah. Perilaku mereka diamati peneliti.

Di rumah itu Nee meninggalkan tas kerjanyi. 

Begitu penjahat masuk rumah, barang pertama yang diambil adalah tas milik Nee. Beberapa lembar uang tunai di situ dicuri. Lalu, pencuri bergerak sangat cepat memilih barang-barang kecil atau berbobot ringan, tetapi laku jika dijual.

Sepanjang eksperimennyi menunjukkan, sebagian besar pencuri beroperasi dengan ”pilot otomatis” yang terampil yang memungkinkan mereka dengan cepat memanfaatkan peluang.

Semua itu dimulai jauh sebelum hari perampokan. Ketika pelaku mulai membutuhkan uang, ia akan mulai mencatat target potensial selama aktivitas sehari-hari mereka. Misalnya, mempelajari jumlah orang dan kebiasaan orang yang rumahnya bakal dirampok.

Perampok sangat fleksibel. Mereka dapat dengan cepat mengubah pikiran mereka pada hari itu jika melihat rumah lain yang lebih mudah diakses. Misalnya, jendela atau pintu yang terbuka atau jika pemiliknya sedang pergi.

Setelah masuk ke rumah korban, pilot otomatis terbukti sangat penting untuk mencegah penjahat kehilangan kendali.

Yang mengejutkan, sebagian besar proses berpikir perampok terjadi di bawah kesadaran, memberi si pencuri ruang mental yang lebih besar untuk menghadapi risiko ketahuan. 

”Saya bisa melakukannya dengan mata tertutup,” kata seorang mantan perampok kepada Nee selama wawancara dalam penjara. ”Pencarian menjadi naluri alami, seperti operasi militer.” Begitulah deskripsi perampok lain. 

Hasil riset itu menunjukkan bahwa perampok bukan seperti anggapan orang, bahwa perampok orang bodoh atau berpendidikan rendah. Sebaliknya, Nee berpendapat, perampok punya ”pilot otomatis” di otak mereka. 

Dengan begitu, ketika merampok, mereka bertindak terarah dan efisien. Membuat waktu perampokan berlangsung cepat dan efektif.

Kategori :