Dunia yang semakin terbuka menjadi lebih ramah pada isu-isu tentang perempuan. Termasuk, membahas kondisi mental perempuan yang sering dianggap lemah, ringkih, dan tak berdaya.
URUSAN perempuan sangat beraneka ragam. Tanpa harus punya jabatan rangkap, seorang perempuan dituntut multitasking. Apalagi, jika dia sudah menikah dan punya anak.
"Mengapa perempuan modern di era teknologi seperti sekarang pun masih harus stres karena urusan rumah?" ucap Leah Ruppanner, sosiolog dari University of Melbourne yang concern pada kesejahteraan dan kesehatan mental perempuan, seperti dikutip BBC pada 19 Maret 2026.
Dalam bukunya, Drained, Ruppanner memaparkan delapan kondisi mental yang membuat perempuan senantiasa tertekan dan dirundung beban rumah tangga. Akibatnya, perempuan lebih mudah merasa lelah karena terkuras secara fisik dan mental.
BACA JUGA:IWD Surabaya Ungkap Kekerasan Seksual pada Kelompok Rentan, Perempuan Sering Jadi Korbannya
BACA JUGA:Kajian Mutiara Muslimah Unair, Sajikan Wawasan tentang Kebebasan dan Ketundukan Perempuan
LEAH RUPPANNER menunjukkan Drained, bukunya yang mengulas kesehatan mental perempuan.--Instagram/Leah Ruppanner
Kebiasaan masyarakat dan norma sering menjadi penjara bagi perempuan, karena minta tolong kepada pasangan atau mengajak pasangan berbagi beban pekerjaan dalam rumah adalah hal yang tidak biasa.
"Akibatnya, saat Anda bersantai pun, Anda membawa beban rumah itu. Misalnya, Anda jalan-jalan di sekitar rumah untuk menghirup udara segar. Secara fisik, Anda tidak membawa baju-baju kotor yang harus dicuci. Tapi, secara mental, Anda membawanya ke mana-mana," urainya.
Berikut delapan beban mental (sekaligus pelabelan) yang jika dibiarkan bisa menjadi racun bagi perempuan.
1. Keteraturan
Secara tradisional, kebersihan, kerapian, dan kenyamanan anak-anak selalu menjadi pekerjaan perempuan. Sayangnya, bagi sebagian orang, pekerjaan yang menyita waktu dan tenaga itu tidak dianggap sebagai pekerjaan.
BACA JUGA:Keras Bekerja, tapi Tak Kunjung Kaya: Ironi Perempuan Indonesia Kini
BACA JUGA:Megawati Soekarnoputri: Kepemimpinan Perempuan Itu Merawat, Bukan Mendominasi
Maka, penghargaan terhadap perempuan menjadi kurang. Demikian pula kerelaan untuk memberikan perempuan me time atau sekadar istirahat setelah mengurus rumah.
2. Jubir Keluarga
Perempuan selalu dituntut untuk ramah dan tahu kondisi dan posisi anggota seluruh keluarga. Bahkan, keluarga besar. Menanyakan kabar orang tua, kerabat, atau sahabat menjadi urusan perempuan. Maka, perempuan dituntut selalu bisa membaca mood orang lain yang kabarnya ingin dia ketahui.
KEWALAHAN mengurus pekerjaan dan mengasuh buah hati memicu kelelahan fisik dan mental.-Ketut Subiyanto-Pexels
3. Perekat Hubungan
Ramah atau tidaknya sebuah keluarga sering digantungkan pada perempuan. Keluarga besar pun akan membaca peduli atau tidaknya sebuah keluarga dari sikap perempuan paling dewasa di sana. Itu membuat perempuan mau tak mau selalu terkoneksi dengan keluarga besar.
4. Pencipta Keajaiban
Perempuan biasa menjadi "seksi acara" dalam aktivitas-aktivitas bersama. Bikin games saat Lebaran. Bikin hidangan lezat saat halal bihalal. Atau, menyiapkan kado-kado manis saat Natal. Berkat si "seksi acara", suasana kumpul-kumpul menjadi lebih hidup dan keajaiban terjadi.
BACA JUGA:Aisah Dahlan tentang Dinamika Memahami Laki-Laki dan Perempuan: Harmoni Tercipta dari Perbedaan
BACA JUGA:Ulasan Buku Mawar, Bukan Nama Sebenarnya karangan Dian Purnomo: Ironi Perempuan di Negeri Patriarki
5. Pembangun Mimpi
Perempuan seperti punya tugas khusus untuk memastikan semuanya baik-baik saja. Pembelajaran anak-anak lancar. Bakat anak-anak tersalurkan. Suami punya waktu untuk melakoni hobi.
Kesejahteraan mental semua orang di dalam rumah adalah tanggung jawab si ibu (perempuan). Berkat dia, impian seluruh anggota keluarga bisa tercapai, kecuali impian si ibu.