JAKARTA, HARIAN DISWAY - Harga komoditas energi dan perkebunan, seperti batu bara serta minyak sawit mentah atau CPO, mengalami kenaikan tajam sejak konflik Iran pecah pada akhir Februari 2026.
Kenaikan tersebut membawa keuntungan besar bagi pelaku usaha di Indonesia yang bergerak di sektor terkait. Hal itu terjadi karena posisi Indonesia sebagai eksportir utama CPO dan batu bara thermal di pasar global.
Data Refinitiv menunjukkan bahwa pada Jumat, 27 Maret 2026, harga CPO ditutup di level MYR 4.631 per ton dengan kenaikan harian sebesar 1,04 persen. Jika dihitung sejak pecahnya perang pada 28 Februari 2026, harga CPO telah melonjak sekitar 14,6 persen.
BACA JUGA:Iran Tetapkan 5 Syarat Akhiri Perang, Tolak Proposal Perdamaian Amerika Serikat
BACA JUGA:Iran Tembak Kapal Induk AS, Perang Timur Tengah Kian Meluas
Bahkan, pada 16 Maret 2026, harga sempat mencapai MYR 4.631 per ton, yang menjadi titik tertinggi sejak Februari 2025 atau dalam kurun lebih dari satu tahun terakhir.
Perang antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat mendorong lonjakan harga minyak mentah global, sehingga banyak produsen mulai beralih ke sumber energi yang lebih terjangkau.
Permintaan biodiesel ikut meningkat akibat mahalnya minyak mentah, yang kemudian memperkuat harga minyak sawit.
Di saat yang sama, tingginya harga minyak kedelai turut menekan potensi peralihan di pasar minyak nabati. Kombinasi ini memberi dorongan dari sisi biaya sekaligus substitusi.
BACA JUGA:AS Kirim Proposal Damai ke Iran, Harapan Akhiri Perang Timur Tengah Menguat
BACA JUGA:Harga BBM Tetap Stabil di Tengah Perang Timur Tengah, Warganet Soroti Kebijakan Pemerintah
Secara teknikal, pelaku pasar melihat peluang harga bertahan di atas MYR 4.580 per ton sebagai area support, sementara batas atas atau resistance diperkirakan berada di sekitar MYR 4.700 per ton.
Posisi harga saat ini berada di tengah rentang tersebut. Pergerakan berikutnya akan sangat ditentukan oleh tren harga minyak mentah serta permintaan dari negara importir utama.
Harga minyak Brent masih bergerak di bawah batas US$100 per barel. Kondisi ini dipengaruhi langkah diplomasi Amerika Serikat yang memunculkan harapan meredanya konflik di Timur Tengah serta menekan kekhawatiran gangguan pasokan jangka panjang.
"Harga minyak mentah yang tinggi meningkatkan keekonomian biodiesel, sehingga mendorong permintaan minyak sawit sebagai bahan baku bahan bakar alternatif," kata Manajer Portofolio Tradeview Capital Neoh Jia Man yang dikutip dari CNBC pada Santu, 29 Maret 2026.