Namun, gaya bermainnya yang kompleks membutuhkan waktu untuk diterapkan secara efektif. Dalam beberapa pengalaman sebelumnya, ia tidak langsung memberikan hasil instan. Bahkan, awal masa kepelatihannya di beberapa klub diwarnai dengan periode tanpa kemenangan.
Itulah dilema terbesar bagi Tottenham. Di satu sisi, mereka membutuhkan identitas permainan baru. Namun di sisi lain, situasi saat ini menuntut hasil cepat.
BACA JUGA:Guglielmo Vicario Terpuruk di Tottenham, Inter Milan Siap Manfaatkan Situasi
BACA JUGA:Atletico Madrid Incar Cristian Romero, Manfaatkan Klausul Khusus dan Keterpurukan Tottenham
Dengan hanya tujuh pertandingan tersisa dan posisi yang masih rawan, tidak ada ruang untuk proses adaptasi yang panjang. Jika De Zerbi benar-benar ditunjuk dalam waktu dekat, ia akan langsung dihadapkan pada tekanan besar.
Laga tandang melawan Sunderland pada 12 April bisa menjadi penentu arah musim. Hasil buruk berpotensi menyeret Spurs ke zona degradasi. Itu belum pernah mereka alami sejak 1977.
Tantangan tersebut bukan hanya soal taktik. Tetapi juga soal mental tim yang saat ini sedang rapuh. De Zerbi harus mampu membangkitkan kepercayaan diri pemain. Sekaligus menyederhanakan pendekatan bermain agar bisa langsung efektif.
Kontroversi di Balik Dukungan dan Penolakan
De Zerbi resmi tinggalkan Marseille dan kini masuk pertimbangan Manchester United sebagai calon manajer baru.-Kurt Desplenter-Getty Images
Di tengah urgensi mencari pelatih baru, Tottenham juga harus menghadapi gelombang penolakan dari sebagian suporternya terkait kemungkinan penunjukan De Zerbi. Isu itu tidak berkaitan dengan kualitas taktik. Melainkan sikapnya di masa lalu.
BACA JUGA:Atletico Madrid vs Tottenham 5-2, Ganti Kiper Pun Tak Bisa Selamatkan Spurs
BACA JUGA:Barcelona Kepincut Bek Muda Tottenham Luka Vuskovic, Siap Tebus 40 Juta Euro?
Beberapa kelompok suporter menyoroti dukungan terbuka De Zerbi terhadap Mason Greenwood saat masih di Marseille. Hal itu dianggap bertentangan dengan nilai yang selama ini dijunjung klub.
Kelompok Proud Lilywhites secara tegas menyampaikan penolakannya. “Ketika seseorang di posisi penting membela kasus seperti itu dan terkesan meremehkannya, itu bukan hal sepele. Kami ingin kepemimpinan yang mencerminkan nilai klub. Bukan sebaliknya,” tegas kelompok tersebut.
Kelompok lain seperti Women of the Lane juga menyatakan kekhawatiran serupa. Mereka menilai bahwa keputusan tersebut bisa mencoreng citra klub. Pun, menimbulkan pertanyaan besar tentang arah kepemimpinan.
Situasi itu menempatkan manajemen Tottenham dalam posisi sulit. Mereka tidak hanya harus memikirkan solusi di lapangan. Tetapi juga menjaga hubungan dengan basis suporter yang semakin kritis.
BACA JUGA:Prediksi Skor Atletico Madrid vs Tottenham: Update Kondisi, Head to Head, dan Perkiraan Line Up