Primigravida dan Kesehatan Mental Ibu Hamil yang Sering Terabaikan

Kamis 02-04-2026,14:10 WIB
Oleh: Eva Nur Rachmah*

Indonesia tidak sedang menghadapi masalah yang kecil. Kementerian Kesehatan mencatat sasaran ibu hamil nasional mencapai 4.907.227 orang, berdasarkan Komdat Kesmas per 31 Januari 2024. Di balik besarnya angka itu, ada kenyataan yang jarang dibicarakan dengan sungguh-sungguh: jutaan perempuan sedang memasuki fase hidup yang bukan hanya menuntut kesiapan fisik, melainkan juga ketahanan mental.

Kita terlalu sering bicara tentang gizi ibu hamil, pemeriksaan kandungan, dan keselamatan persalinan, tetapi lupa bahwa ada satu persoalan yang diam-diam menggerogoti banyak perempuan, terutama mereka yang hamil untuk pertama kali: rasa takut.

Di sinilah primigravida menjadi penting. Perempuan yang pertama kali hamil sedang berdiri di batas antara bahagia dan takut. Di satu sisi, ada harapan baru, ada keluarga yang menanti, ada masa depan yang mulai dibayangkan.

Namun di sisi lain, ada tubuh yang berubah cepat, hormon yang bergerak liar, pikiran yang tak selalu tenang, dan pertanyaan-pertanyaan yang datang bertubi-tubi: Apakah janin saya sehat, apakah saya bisa melahirkan dengan selamat, apakah saya akan menjadi ibu yang baik, apakah ekonomi keluarga cukup, apakah hidup saya akan berubah terlalu jauh.

Kehamilan pertama, yang dari luar kerap dipandang indah, dalam banyak kasus justru menjadi ruang sunyi tempat kecemasan tumbuh tanpa banyak orang sadari.

Masalahnya, rasa takut pada ibu hamil masih terlalu sering diremehkan. Banyak perempuan yang gelisah justru hanya diberi jawaban dangkal: jangan banyak pikiran, dibawa santai saja, nanti juga terbiasa. Kalimat seperti itu terdengar menenangkan, tetapi sesungguhnya bisa kejam.

BACA JUGA:RUU PPRT: Ketika Konstitusi Berhenti di Depan Pintu Dapur

BACA JUGA:Analisis Bunuh-Mutilasi Bedul di Kedai Ayam Geprek Bekasi: Diduga Dikeroyok Kawan

Sebab, rasa takut dalam kehamilan bukan sekadar manja, bukan pula sekadar efek hormon yang lewat begitu saja. Ia bisa hadir dalam bentuk sulit tidur, jantung berdebar, pikiran buruk yang berulang, rasa takut berlebihan, mudah marah, sulit fokus, sampai perasaan seolah sesuatu yang buruk akan terjadi.

Pada titik tertentu, kecemasan ini bukan lagi gangguan kecil. Ia bisa menguras tenaga, menghilangkan ketenangan, bahkan merusak pengalaman kehamilan itu sendiri.

Di sinilah kita harus jujur: kehamilan pertama tidak selalu dibungkus kebahagiaan utuh. Ada banyak perempuan yang tersenyum saat difoto, tetapi menangis diam-diam saat malam tiba. Ada yang tampak baik-baik saja di ruang pemeriksaan, tetapi kepalanya penuh ketakutan ketika pulang ke rumah.

Ada yang tubuhnya diperiksa rutin, tetapi jiwanya luput ditanya. Kita hidup dalam budaya yang sering menuntut ibu hamil untuk tampak kuat, tenang, dan bahagia, seolah kecemasan adalah aib yang tak pantas diakui. Padahal, justru dari pengakuan itulah pertolongan bisa dimulai.

Karena itu, kasus primigravida tidak boleh hanya dibaca sebagai urusan obstetri. Ini juga urusan kesehatan jiwa. Kehamilan pertama adalah fase adaptasi besar. Perempuan sedang menegosiasikan identitas baru, tubuh baru, tanggung jawab baru, dan masa depan baru dalam waktu yang nyaris bersamaan.

Jika tidak ada dukungan yang cukup, ruang cemas itu akan membesar. Terlebih ketika kehamilan datang di tengah tekanan ekonomi, pekerjaan yang tidak stabil, hubungan keluarga yang tidak hangat, atau minimnya informasi yang benar. Dalam situasi seperti itu, rasa takut menjadi sangat masuk akal. Yang tidak masuk akal adalah ketika masyarakat justru menyuruh ibu hamil memendam semuanya sendirian.

BACA JUGA:Seandainya Anwar Sadat dan Yitzhak Rabin Tidak Ditembak Mati

BACA JUGA:Board of Peace dan Resiprositas yang Layak Dipertanyakan

Kategori :