Selama periode 32 tahun yang diteliti, jumlah pelaku pembunuhan orang tua oleh anak-anak cenderung menurun. Sekarang (2012) rata-rata, anak-anak membunuh 31 ayah dan 18 ibu per tahun di AS.
Selain jumlah kasus pembunuhan orang tua yang sedikit jika dibandingkan dengan semua kasus pembunuhan, penelitian menunjukkan bahwa sulit untuk memprediksi perilaku kekerasan, kecuali jika ada riwayat perilaku kekerasan oleh individu tertentu.
Meski tidak mungkin untuk memprediksi anak akan membunuh orang tuanya, penelitian menunjukkan, ada empat faktor yang meningkatkan kemungkinan anak membunuh orang tuanya.
Pertama, si anak dibesarkan dalam keluarga yang mengalami ketergantungan zat kimia atau keluarga disfungsional lainnya.
Kedua, pola kekerasan dalam rumah tangga yang berulang terjadi di rumah tersebut.
Ketiga, remaja menjadi makin rentan terhadap stres di lingkungan rumah sehingga membunuh ortu.
Keempat, senjata api (di AS) mudah didapatkan di lingkungan rumah.
Heide: Ketika saya melihat keluarga dalam situasi ini, hal pertama yang saya tanyakan adalah adakah senjata api di rumah? Jika ada, saya sarankan orang tua mengeluarkan senjata tersebut dari rumah sampai kondisi membaik secara signifikan.
Dilanjut: Penelitian saya dan studi oleh orang lain menunjukkan bahwa dalam sebagian besar kasus, anak-anak dan remaja menggunakan senjata api untuk membunuh ayah dan ibu mereka.
Dilanjut: Analisis saya terhadap ribuan kasus menunjukkan bahwa remaja di bawah 18 tahun secara signifikan lebih cenderung menggunakan senjata api untuk membunuh orang tua mereka daripada pelaku dewasa.
CBS News: Adakah usia tertentu di mana seorang anak lebih cenderung membunuh orang tuanya (remaja versus dewasa)? Dan, adakah ada motivasi yang sangat kuat?
Heide: Tidak ada batasan usia spesifik. Namun, usia memang relevan ketika mempertimbangkan kemungkinan motivasi atau faktor yang berkontribusi terhadap pembunuhan tersebut.
Dilanjut: Motivasi pembunuhan sangat penting karena berkaitan dengan seberapa besar risiko yang ditimbulkan pelaku pembunuhan orang tua terhadap masyarakat dan apa yang harus dilakukan dalam hal keadilan.
Dilanjut: Anak-anak dan remaja paling mungkin membunuh untuk mengakhiri kekerasan atau untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Terkadang mereka membunuh karena penyakit mental yang parah. Namun, penyakit mental bukan faktor utama pembunuhan.
Di kasus pembunuhan Idris, polisi tidak mendalami latar belakang masalah, sejarah hubungan antara pelaku dan korban. Fokus tugas polisi pada pembuktian perkara pidana itu. (*)