HARIAN DISWAY- Awal musim 2026 menjadi momen yang cukup menjanjikan bagi Lewis Hamilton bersama Ferrari setelah melalui musim debut yang sulit pada tahun sebelumnya. Adaptasi yang lebih baik terhadap regulasi baru mulai menunjukkan hasil, dengan performa yang lebih kompetitif di beberapa balapan awal musim ini.
Performa tersebut memberikan harapan baru bagi Ferrari untuk kembali bersaing di papan atas, terutama setelah periode inkonsistensi yang mereka alami dalam beberapa musim terakhir. Kehadiran Hamilton yang semakin nyaman dengan mobil menjadi salah satu faktor penting dalam peningkatan performa tim.
Puncak dari awal positif ini terlihat saat Hamilton berhasil meraih podium pertamanya bersama Ferrari di GP China. Hasil ini menjadi simbol kemajuan yang signifikan setelah sebelumnya ia kesulitan beradaptasi dengan mobil dan strategi tim pada musim 2025.
Namun demikian, tidak semua pihak melihat pencapaian tersebut sebagai indikasi kebangkitan yang pasti. Eddie Irvine, mantan pembalap Ferrari, mengingatkan bahwa performa di satu balapan belum cukup untuk menilai konsistensi sepanjang musim.
"Selalu sangat rumit bagi tim merah. Masalahnya adalah jarak dari dunia F1, yaitu Inggris Raya, namun dibandingkan tahun lalu, saya pikir mereka setidaknya dapat meraih satu kemenangan," ungkap Irvine.
Perfoma Lewis Hamilton semakin meningkat, Eddie Irvine mengingatkan agar tidak buru-buru menilIai kebangkitan Lewis bersama Ferrari di musim 2026-scuderiaferrari-instagram
BACA JUGA:Aston Martin F1 Team Alami Krisis, Masalah Getaran Mesin Honda Hambat AMR26
BACA JUGA:Ferrari Siapkan Upgrade Besar SF-26 Jelang GP Miami 2026
Ia menilai bahwa karakteristik sirkuit tertentu dapat memengaruhi hasil balapan secara signifikan, sehingga podium di China belum tentu mencerminkan kekuatan sebenarnya Ferrari di semua lintasan. Hal ini menjadi alasan utama mengapa ia memilih untuk bersikap hati-hati dalam menilai performa Hamilton.
Menurutnya, faktor teknis dan kondisi lintasan dapat memberikan keuntungan sementara yang tidak selalu berulang di balapan berikutnya. Oleh karena itu, konsistensi di berbagai sirkuit menjadi tolak ukur yang lebih akurat untuk menilai performa seorang pembalap.
Keraguan tersebut semakin diperkuat oleh hasil grand prix Jepang, di mana Hamilton tidak mampu menandingi rekan setimnya, Charles Leclerc. Sepanjang akhir pekan, Leclerc tampil lebih dominan dan berhasil menunjukkan performanya yang stabil.
"Saya tidak akan menganggap podium Hamilton sebagai hal yang pasti. Di China, ia naik podium untuk pertama kalinya bersama Ferrari, tetapi itu sirkuitnya, namun di Jepang ia dikalahkan oleh Charles Leclerc sepanjang akhir pekan," ujar Irvine.
Hasil tersebut memperlihatkan bahwa meskipun ada peningkatan, Hamilton masih menghadapi tantangan dalam menjaga konsistensi performa di setiap balapan. Hal ini menjadi pekerjaan rumah bagi Ferrari untuk memastikan kedua pembalapnya dapat tampil maksimal secara bersamaan.
Selain itu, Hamilton sendiri mengakui bahwa ia mengalami kendala teknis pada mobilnya selama balapan di Jepang. Ia merasa bahwa tenaga mesin yaang dimilikinya lebih rendah dibandingkan para pesaing di sekitarnya.
BACA JUGA:Curhat Lewis Hamilton Setelah GP Jepang 2026: 'Saya Tak Tahu Mengapa Mobil Ferrari Ini Lambat'