"Ada yang mbunuhin orang-orang yang auranya paling negatif, nih," kata salah seorang napi, teman satu sel Anggoro. Entah dari mana ia mendapatkan kesimpulan itu. Yang jelas, semua orang langsung percaya.
Katanya, entitas jahat tersebut memburu orang-orang yang dipenuhi kebencian, amarah, dan niat jahat. Padahal, hidup di penjara yang begitu brutal, bagaimana seseorang bisa menjaga aura positif?
Ketakutan itu membuat situasi di penjara berubah drastis. Para narapidana yang sebelumnya saling bermusuhan mendadak berusaha menjaga emosi mereka agar tetap positif.
BACA JUGA:Sinopsis They Will Kill You, Teror Sekte Mematikan di Gedung Mewah New York
BACA JUGA:5 Pemain They Will Kill You, Tom Felton Jadi Pemimpin Sekte Pemuja Iblis
Perubahan tersebut menghadirkan momen yang tidak biasa di dalam lapas. Para tahanan mulai berbagi makanan, saling membantu, bahkan salat bersama.
Di sinilah unsur komedi mulai terasa di tengah suasana mencekam. Bayangkan saja, para tahanan yang biasanya penuh konflik tiba-tiba berubah menjadi lebih ramah dan berhati-hati. Selain beribadah, mereka juga belajar menari dan senam.
Sinopsis Ghost in the Cell, film horor komedi penjara brutal karya Joko Anwar yang tayang April 2026 dengan teror misterius para napi--imdb
Situasi semakin absurd ketika mereka mulai berlomba-lomba melakukan kebaikan. Hal tersebut menciptakan dinamika unik yang memperlihatkan sisi manusiawi para karakter di tengah tekanan ekstrem.
Namun, seiring waktu, para napi mulai menyadari ada teror lain yang mengincar mereka. Ancaman terbesar ternyata bukan datang dari makhluk gaib, tetapi juga dari sistem penjara yang menindas mereka.
BACA JUGA:Sinopsis Film Aku Harus Mati, Teror Pesugihan Akibat Gaya Hidup Hedon
BACA JUGA:Sinopsis Film Aku Harus Mati, Teror Pesugihan Akibat Gaya Hidup Hedon
Cerminan Indonesia
Joko Anwar mengungkapkan, Ghost in the Cell berkaitan erat dengan situasi yang dihadapi kebanyakan masyarakat Indonesia saat ini. Penjara ia anggap sebagai miniatur sebuah negara. Dengan otoritas, aturan, dan para tahanan.
"Napinya itu kita, warga negara Indonesia. Yang sering kali terpenjara di negara sendiri, terjebak dalam sistem yang sakit," papar Joko Anwar dalam sebuah wawancara.
Selama mengembangkan naskah, satu kata yang terus muncul dalam benak Joko adalah absurd. Ia merasa Indonesia saat ini berada dalam titik yang sangat aneh.
Segala kegilaan, mulai dari korupsi ratusan triliun hingga polusi yang menyesakkan, dihadapi dengan ketenangan oleh masyarakatnya. Bukan karena tidak peduli. Tapi karena tidak berdaya.