Media sosial kini tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi. Tetapi juga menjadi sarana ekonomi melalui tren social commerce. Pengguna dapat berinteraksi sekaligus melakukan transaksi dalam satu platform yang sama.
Fitur seperti live shopping memungkinkan interaksi langsung antara penjual dan pembeli secara real-time. Hal itu menciptakan pengalaman berbelanja yang lebih interaktif dan mendekati komunikasi langsung.
BACA JUGA:Algoritma Media Sosial dan Urgensi Literasi Multikultural
BACA JUGA:5 Sanksi yang Menanti Orang Tua Jika Anak di Bawah 16 Tahun Main Media Sosial
Tren interaksi juga bergeser ke arah komunitas yang lebih kecil. Namun, lebih kuat. Pengguna kini cenderung mencari ruang digital yang memberikan rasa kedekatan. Juga interaksi yang lebih bermakna.
Fenomena viral dan tren nostalgia juga turut memengaruhi cara berinteraksi. Salah satunya melalui tren 2026 is The New 2016 yang menghidupkan kembali gaya dan pengalaman masa lalu.
Dampak Sosial dan Tantangan di Era Media Digital
Perkuat Social Media Marketing Untuk Menarik Perhatian Audiens Gen Z-Niagahoster-
Di balik kemudahan yang ditawarkan, perkembangan media sosial juga membawa sejumlah tantangan. Tingginya intensitas penggunaan, terutama di kalangan remaja, berpotensi mengurangi interaksi langsung di dunia nyata.
Fenomena seperti Fear of Missing Out semakin sering terjadi. Pengguna merasa harus selalu terhubung agar tidak tertinggal informasi atau tren terbaru.
BACA JUGA:Paten AI Meta Ungkap Nasib Media Sosial Setelah Pemiliknya Meninggal
BACA JUGA:Cara Mengenali Video Deepfake dan Konten AI yang Viral di Media Sosial 2026
Lepas dari semua itu, media sosial tetap menjadi alat penting dalam membangun identitas diri, memperluas jaringan sosial, serta menyuarakan opini di ruang publik. (*)
*)Mahasiswa magang dari Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, UINSA.