Gencatan Senjata dan Krisis Ekonomi Global yang Masih Mengancam

Jumat 10-04-2026,04:33 WIB
Reporter : Tofan Mahdi*
Editor : Yusuf Ridho

Karena itu, meski harga minyak mulai turun, krisis energi masih akan berlanjut dan akan lebih banyak negara yang akan mengalami lonjakan laju inflasi, kenaikan suku bunga, dan akhirnya terjebak dalam krisis ekonomi.

KRISIS PANGAN

Setiap hari sedikitnya 10 juta barel minyak mentah dikirim ke pasar ekapor melalui Selat Hormuz. Namun, Selat Hormuz tidak hanya menjadi koridor utama ekspor minyak dari Teluk ke berbagai negara di dunia, tetapi pengiriman bahan baku energi lain seperti LNG juga melawati jalur tersebut. 

Harga gas alam melonjak tajam karena ekspor LNG dari Qatar yang menguasai 20 persen pangsa pasar global berhenti karena perang. Negara-negara importir gas alam dari Qatar seperti sejumlah negara di Asia dan Eropa mengalami krisis karena pasokan global yang terbatas. 

Kenaikan harga gas alam akhirnya memberikan dampak kenaikan harga kepada komoditas lain seperti baja, aluminium, dan tembaga. 

Krisis energi akibat perang di Teluk juga berimbas pada sektor pertanian dan pangan. Salah satu komoditas utama penunjang sektor pertanian, yaitu pupuk, mencatat lonjakan harga hingga 20 persen year-on-year memasuki kuartal kedua tahun 2026. 

Untuk menekan biaya produksi, biasanya petani mengurangi takaran pupuk ke tanaman. Meski demikian, pengurangan konsumsi pupuk selain akan memengaruhi kualitas dan volume produksi juga tidak akan memberikan dampak signifikan karena biaya logistik yang mahal akibat kenaikan harga minyak. 

Para analis komoditas global memperkirakan harga pangan global akan naik secara rata-rata 6 persen tahun 2026. Bahkan, kenaikan harga pangan itu bisa berlanjut hingga beberapa tahun mendatang. 

Badan PBB untuk Program Pangan Dunia (WFP) memperkirakan bahwa konflik di Teluk akan mengakibatkan tambahan 45 juta orang bisa menderita kelaparan akut pada 2026. 

Di Asia dan Pasifik, ketahanan pangan diperkirakan akan menurun sebesar 24 persen, yang merupakan peningkatan relatif terbesar jika dibandingkan dengan wilayah mana pun. 

Seorang perwakilan WFP seperti dikutip foreignpolicy.com menyampaikan, Asia Tenggara tidak hanya berjuang menghadapi kenaikan harga minyak dan pupuk, tetapi juga gelombang panas yang mengerikan. 

Harga pangan sangat mengikuti kenaikan harga minyak. Namun, penurunan harga minyak tidak menghasilkan penurunan harga pangan yang proporsional. 

AMANKAH INDONESIA?

Ketika rakyat AS mulai mengeluhkan harga bensin dan pemerintah Filipina sudah menyatakan kondisi darurat energi dan memberlakukan WFH (work from home), hingga 40 hari perang di Teluk, sepertinya Indonesia masih baik-baik saja. 

Indikator paling sederhana adalah pemerintah yang belum menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) yang subsidi maupun nonsubsidi, angka inflasi Maret yang masih terkendali, dan belum ada kenaikan suku bunga bank. Namun, apakah indikator makroekonomi seperti itu menggambarkan situasi yang sudah aman?

Sejatinya, seperti seratus negara dunia lain yang terkena dampak perang di Teluk, situasi ekonomi Indonesia juga tetap rentan dan mengkhawatirkan. Indikator yang bisa menjadi sinyal awal kerawanan ekonomi Indonesia, antara lain, kenaikan harga minyak dan gas dunia serta melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. 

Kategori :